Mar 30, 2014

Akibat dari Kesombongan dan Merasa Hebat

Ketika sedang main internet dirumah saya kedatangan tamu, namanya Pak Chol. Dia biasa bercanda, makanya ketika datang ke rumah saya pikir ada yang mau dicandain. Namun dengan mimik serius ia bicara agak pelan. "Pak, kesini serius" Kata Pak Chol.... "Mau bercanda nih?" Jawab saya
 


"Nggak Pak, serius ini... Ada yang mau berantem" Katanya
"Hah, siapa" Tanya saya kaget

"Pak Ustadz sama Pak Upik, cepetan Pak, sebelum mereka adu jotos" Jawabnya
"Oke" Jawab saya singkat

Buru-buru saya jalan ke belakang di area Masjid. Diperjalanan saya bertemu dengan Pak Bagyo

"Ada apa pak? Kok buru-buru?" Tanya Pak Bagyo
"Ada yang mau berantem" Jawab saya singkat

"Waduh, sebentar pak saya bawa balok dulu ya?"
"Nggak usah"

Kemudian saya jalan cepat-cepat takutnya sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kemudian di area masjid saya melihat Pak Upik sedang menunggu Pak Ustadz selesai sholat..

"Ada apa pak? Aman ya?" Tanya saya
"Oh, iya pak aman" Jawabnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa

"Oke, saya ke tempat Pak Gito ya?"
"Ya Pak?" Jawabnya

Saya berjalan lagi menyusuri gang sekitar masjid sambil masih mengawasi gelagat yang tidak beres dari Pak Upik. Benar saja ketika Pak Ustadz keluar dari masjid pak upik berlari menghampirinya.

"Hey, eloh sini...!!!!.... Elo jangan macem-macem ya mentang-mentang ustadz main jewer anak orang" Semprot Pak Upik berlari menghampiri Ustadz dan hampir menonjoknya

Melihat hal itu spontan saya berlari melerai kedua belah pihak

"Elo ngaji, gua juga ngaji... Lo jangan sok pintar ya? Gua kepret lo...!!!" Pak upik hampir saja memukup Pak Ustadz
"Oh ya... Saya minta maaf ya?' Kata Ustadz

"Maaf-maaf apaan.. ELo jadi ustadz jangan sok pintar ya?" Semprot Pak Upik

Singkat kata mereka khususnya Pak Upik ngotot dan menyemprot Pak Ustadz, sementara pak ustadz mencoba menenangkannya. Saya berada ditengah-tengah jangan sampai ada perkelahian. Kadang-kadang Pak Upik mencoba meraih kerah baju Pak Ustadz dan hendak memukul. Namun saya hadang pas ditengah-tengah sehingga kejadian yang tidak diinginkan bisa dihindari..

"Sudah-sudah... Pak Ustadz sudah meminta maaf jangan diteruskan. Malu sama orang.." Kata saya mencoba melerai...

Setiap kali pak Upik sepertinya sudah reda emosinya, dan berbalik ke belakang, tiba-tiba balik lagi dengan emosi dan hendak memukul Pak Ustadz. Begitu seterusnya beberapa kali.

Yah, begitulah hidup bermasyarakat banyak dinamika. Beda mazhab, beda keyakinan seringkali menyebabkan gesekan yang disebabkan oleh masalah sepele. Padahal sudah dewasa cenderung tua masih saja berbuat seperti anak-anak.

Beliau Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman!, Mereka para sahabat bertanya, "Siapa ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab, "Seseorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya". (HR. al-Bukhari).

Kalau ada masalah bicarakanlah dengan kedewasaan. Apalagi memang alsinya sudah dewasa dan berumur. Janganlah emosi selalu saja diperturutkan yang pada akhirnya tidak baik.

Percayalah sesiapa yang memperturutkan emosi dan merasa diri paling hebat, paling jago maka hidupnya tidak akan tenang. Saya sudah menjumpai banyak sekali bukti tentang hal ini karena memang kegiatan saya banyak dihabiskan dimasyarakat dan sosial. Mereka dijauhi tetangga dan masyarakat, dijauhi rezeki, dijauhi kebahagiaan. Ini adalah balasan bagi kesombongan.

Sekali lagi bicarakanlah dengan dewasa dan bijaksana sehingga menghasilkan solusi yang terbaik... Bicarakanlah dengan hati dan rasa sejati..


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment