Feb 20, 2014

Pengalaman Spiritual Ditinjau dari Ilmu Neuro Science

Berikut ini adalah artikel dari beberapa sumber yang saya upload karena memang isinya cukup menarik. Segala tulisan silahkan anda saring jangan ditelan mentah-mentah. Jadikan ia ilmu yang memperkaya khasanah anda dalam bidang neurosciences. 

Artikel dibawah ini di susun oleh seorang Dokter Kristen (kalau tidak salah), namanya Dr.Ioanes Rakhmat. Kristen, Yahudi, Budha dll tidak ada masalah jika tulisannya bisa memberikan tambahan ilmu dan manfaat. Tulisan dibawah ini kami sedikit edit agar tidak membuat pembaca menjadi salah tafsir.

Ok, lets start...
Neurosains (atau neurobiologi) adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari otak dan sistem saraf di dalamnya, yang mengatur cara dan wilayah kerja sel-sel saraf yang dinamakan neuron, dalam hubungannya dengan seluruh tubuh manusia dan keadaan mental. 

Jika neurosains menganalisis dan menjelaskan berbagai pengalaman keagamaan sebagai pengalaman-pengalaman yang dimunculkan oleh sistem neurologis dalam otak manusia karena dipicu oleh berbagai keadaan dan kondisi internal dan eksternal, lepas dari ihwal apakah dunia supernatural itu ada atau tidak ada, maka bidang ilmunya dinamakan neuroteologi. Jadi, semua hal yang dikemukakan dalam tulisan ini berada dalam wilayah kajian neuroteologi.

Dalam tulisan ini hanya beberapa pengalaman spiritual, khususnya pengalaman-pengalaman yang paling umum diklaim dialami orang, yang akan disorot. Isi dan bentuk pengalaman-pengalaman ini akan dikemukakan lebih dulu, sesudah itu pandangan neurosains atas pengalaman-pengalaman ini akan dikemukakan. Dampak-dampak pengalaman ini, baik yang positif maupun yang negatif, pada kesehatan mental subjek-subjek yang mengklaim pernah (atau sering) mengalami, juga akan dikemukakan.

Pengalaman Dekat Kematian (PDK) (Near-Death Experience/NDE)/1/     

Orang-orang dari berbagai latarbelakang kebudayaan dan keagamaan dilaporkan sering mengalami apa yang disebut sebagai pengalaman-pengalaman perithanatik (dari kata Yunani perithanatos) atau pengalaman-pengalaman "dekat kematian" (atau "menjelang kematian"). Meskipun ada beranekaragam latar belakang, namun semua pengalaman ini memiliki ciri-ciri umum.

Ciri-ciri umum

(1) Muncul cahaya terang yang sangat kuat. Kadangkala cahaya yang sangat kuat ini (namun tak menyakitkan) memenuhi ruangan dalam kamar. Dalam kasus-kasus lainnya, si subjek melihat suatu cahaya yang dirasakannya menampilkan entah surga malaikat atau mahluk ghaib lainnya.

(2) Keluar dari tubuh (Out-of-Body Experience/OBE). Si subjek merasa bahwa dia telah keluar meninggalkan tubuhnya. Dia dapat memandang ke bawah dan melihat tubuhnya sendiri, dan seringkali dia juga dapat mendeskripsikan tim dokter yang sedang menangani tubuhnya. Dalam beberapa kasus, si subjek sebagai “roh” keluar meninggalkan kamar, menuju angkasa bahkan masuk ke ruang bintang-bintang di antariksa.

(3) Memasuki suatu kawasan lain atau dimensi lain. Bergantung pada kepercayaan keagamaan si subjek dan jenis/sifat pengalaman PDK, dia dapat mempersepsi kawasan ini sebagai surga atau, tak terlalu sering, sebagai neraka.

(4) Melihat makhluk-makhluk rohani. Selama PDK, si subjek berjumpa dengan “makhluk-makhluk cahaya” atau wujud-wujud rohani lain. Dia dapat mempersepsi makhluk-makhluk ini sebagai kekasih-kekasihnya yang sudah mati, malaikat-malaikat, para santa/santo dll

(5) Masuk ke suatu lorong lurus atau berpilin yang panjang. Banyak orang yang mengalami PDK mendapati diri mereka sedang berada di suatu lorong yang lurus atau berpilin, yang pada ujungnya terdapat cahaya kemilau. Mereka dapat bertemu dengan makhluk-makhluk rohani ketika sedang melintasi lorong cahaya ini.

(6) Berkomunikasi dengan roh-roh. Sebelum PDK berakhir, banyak subjek melaporkan bahwa mereka berkomunikasi dengan suatu makhluk rohani. Seringkali ini diungkapkan mereka sebagai “suara keras seorang lelaki” yang menyatakan kepada mereka bahwa waktu mereka belum tiba dan karena itu mereka harus kembali ke tubuh mereka. Beberapa melaporkan bahwa mereka diminta untuk memilih apakah terus masuk ke dalam cahaya atau kembali ke tubuh jasmaniah mereka. Orang-orang yang lain merasa bahwa mereka dipaksa untuk kembali ke tubuh mereka oleh suatu perintah yang tak terdengar, yang menurut mereka mungkin dari Allah.

(7) Kehidupan selama di Bumi ditinjau. Ciri ini juga dinamakan “peninjauan panoramik atas kehidupan”. Si subjek melihat seluruh kehidupan mereka ditinjau ulang secara kilas balik, bisa sangat rinci dan bisa juga singkat saja. Si subjek juga dapat merasa bahwa atas dirinya suatu vonis telah dijatuhkan oleh makhluk-makhluk rohani yang ada di dekatnya.  

Tidak semua PDK menyenangkan atau memberi rasa damai. Ada juga banyak subjek yang ketika mengalami PDK, mereka malah tercekam rasa takut yang hebat, tidak mengunjungi surga atau bertemu roh-roh yang bersahabat, tetapi sebaliknya berjumpa dengan roh-roh jahat, dan masuk ke dalam neraka lalu di sana melihat lautan api dan belerang (seperti digambarkan misalnya dalam kitab-kitab suci), jiwa-jiwa yang dianiaya, dan suatu rasa tersiksa oleh panas yang hebat. Ada juga yang ketika mengalami PDK, mereka mengalami berbagai penglihatan (visi) profetis yang menyingkapkan kepada mereka nasib Bumi dan umat manusia di akhir zaman, atau juga menyingkapkan manusia berevolusi menjadi makhluk-makhluk adi-insani yang memiliki tubuh spiritual atau tubuh cahaya.

Penjelasan neurosains atas PDK

PDK adalah suatu keadaan yang ditimbulkan oleh suatu gangguan tidur yang dinamakan “rapid eye movement (REM) intrusion” yang berlangsung dalam brain stem atau pangkal otak (terdiri atas medulla, pons, dan midbrain atau otak tengah yang mengendalikan fungsi-fungsi tubuh yang paling mendasar (seperti gerak refleks, fungsi-fungsi otomatis seperti detak jantung dan tekanan darah, gerakan anggota-anggota tubuh, dan fungsi pencernaan dan urinasi).

PDK terjadi karena dipicu oleh peristiwa-peristiwa traumatis, misalnya serangan jantung. Ketika gangguan REM ini terjadi, pikiran seseorang dapat sadar lebih dulu ketimbang tubuhnya, dan kejadian ini umumnya disertai dengan munculnya berbagai halusinasi dan perasaan sedang terpisah dari tubuh. PDK muncul sebagai suatu keadaan kebingungan karena seseorang secara mendadak dan tanpa diharapkan masuk ke dalam suatu keadaan seperti mimpi, sehingga dia tak dapat membedakan mana realitas dan mana fantasi atau mimpi.

Pangkal otak, sebagai bagian dari “otak bawah” (lower brain, yang terdiri atas medulla, pons, midbrain, thalamus, hypothalamus), memungkinkan timbulnya PDK karena bagian otak ini sebetulnya dapat bekerja dan berfungsi lepas sama sekali dari bagian-bagian otak yang terletak di sebelah atas (disebut “higher brain”, yang secara keseluruhan dinamakan cerebrum atau korteks serebral atau korteks saja, dan terdiri atas bagian-bagian besar yang dinamakan frontal lobe, parietal lobe, occipital lobe, dan temporal lobe). Jadi, kalaupun bagian-bagian yang membentuk “otak atas” ini mati, pangkal otak dapat terus berfungsi, dan gangguan REM masih dapat terjadi.  


Pengalaman Keluar dari Tubuh (PKT) (Out-of-Body Experience/OBE) 

PDK/NDE dan PKT/OBE dapat dijelaskan baik lewat teori-teori tentang dunia supernatural (termasuk penjelasan spiritual atau penjelasan keagamaan) yang didasarkan pada kepercayaan, latarbelakang spiritual dan kultural, maupun lewat penjelasan saintifik (mencakup penjelasan-penjelasan medis, fisiologis, neurologis dan psikologis).

Kalau teori-teori supernatural yang dipakai, kedua pengalaman ini pasti dijadikan landasan-landasan untuk membenarkan adanya roh manusia yang bisa meninggalkan tubuh, atau bahwa kesadaran manusia itu bisa lepas dari tubuh namun tetap sadar penuh, atau bahwa manusia itu memiliki selain tubuh jasmaniah, juga “tubuh astral” (dari kata Latin “astrum”= bintang) yang dapat keluar meninggalkan tubuh lalu berkelana ke mana saja tubuh ini, yang tetap memiliki kesadaran, kehendaki.

Masih dalam wilayah psikik/paranormal,  PDK dan PKT juga dipandang sebagai bukti bahwa manusia masih akan mengalami transformasi secara total, menjadi makhluk-makhluk adi-insani dalam dimensi-dimensi lain, dalam wujud makhluk-makhluk spiritual atau makhluk-makhluk cahaya, sebagaimana dilaporkan ditemukan ketika kedua pengalaman ini berlangsung.  

Lalu bagaimana menjelaskan venomena Pengalaman Dekat Kematian dan Pengalaman Keluar Tubuh tersebut ditinjau dari neuro science? Artikel berikutnya akan membahas hal ini.. Silahkan klik lanjutan artikelnya disini


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment