Feb 20, 2014

Neuro Science, Pengalaman Dekat Kematian dan Raga Sukma

Artikel sebelumnya membahas tentang PDK atau pengalaman dekat dengan kematian dan PKT atau pengalaman keluar dari tubuh atau bahasa lainnya adalah raga sukma. Sekali lagi ulasan dibawah ini bersumber dari Dr. Dr.Ioanes Rakhmat. Bagaimana penjelasan PDK dan PKT tersebut? Berikut ini adalah lanjutan artikelnya

Ilmu pengetahuan medis memberi bukti kuat bahwa banyak segi dari kedua fenomena ini bersifat fisiologis, biokimiawi dan psikologis. Para saintis sudah menemukan bahwa obat-obatan yang memberi efek halusinogenis, anestetis dissosiatif dan neurotoksis, seperti ketamine dan PCP (Phencyclidine), atropine dan alkaloid belladonna, DMT (dimethyltryptamine), MDA (methylenedioxy-amphetamine), dan LSD (lysergic acid diethylamide), dapat menimbulkan perasaan-perasaan dalam diri para penggunanya yang nyaris sama dengan perasaan-perasaan yang ditimbulkan PDK dan PKT. Malah beberapa pengguna obat-obat ini berpikir bahwa mereka sebenarnya sedang menuju kematian ketika menggunakannya.

Para neurosaintis telah menemukan bahwa kedua pengalaman yang aneh ini sebetulnya berlangsung tak lepas dari kerja neuron-neuron otak ketika otak kita memproses input data dan informasi yang berasal dari indra-indra. Apa yang kita lihat sebagai “realitas” di sekitar kita sebetulnya hanyalah suatu totalitas semua informasi indrawi yang diterima otak kita pada suatu momen tertentu. Pada waktu anda memandang layar komputer, cahaya (berupa partikel foton) dari layar sampai ke retina mata anda, dan informasi dikirim ke tempat-tempat yang cocok di otak anda untuk menafsirkan pola-pola cahaya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna―dalam hal ini kata-kata yang anda sedang baca.

Suatu sistem saraf dan fiber otot yang lebih rumit pun memungkinkan otak anda mengetahui di mana tubuh anda berada dalam hubungannya dengan ruang di sekitar anda. Tutuplah mata anda, lalu angkatlah tangan kanan anda sampai setinggi ujung kepala anda. Kendatipun anda tak melihat tangan kanan anda yang terangkat itu, anda tahu persis di mana lokasinya. Kenapa? Karena sistem pengindraan dalam otak anda  memungkinkan anda mengetahui di mana tangan kanan anda berada, meskipun anda memejamkan mata anda.

Bayangkanlah semua indra anda keliru berfungsi. Ketimbang otak anda menerima input data indrawi dari dunia objektif di sekitar anda, otak anda menerima informasi yang salah, mungkin dikarenakan obat-obatan, atau disebabkan oleh suatu bentuk trauma yang menyebabkan otak anda tak bekerja. Apa yang anda persepsi sebagai suatu pengalaman real sebenarnya adalah suatu tafsiran yang otak anda sedang coba lakukan atas informasi ini.

Beberapa ahli telah berteori bahwa “kebisingan neural”, yakni suatu keadaan penerimaan informasi yang sangat berlebihan yang dikirim ke korteks visual utama otak (terletak di belakang otak, menciptakan suatu gambar seberkas cahaya yang terang berkilauan yang terus bertambah besar secara bertahap. Otak dapat menafsirkan keadaan ini sebagai gerakan memasuki suatu lorong gelap yang di ujungnya cahaya memancar.

Michael Shermer, yang menulis sejumlah buku yang berkaitan dengan kajian neurosains, menjelaskan bahwa obat-obatan halusinogenik dan keadaan kekurangan/ketiadaan oksigen pada otak (keadaan yang dinamakan hypoxia/cerebral anoxia) dapat mengganggu kecepatan normal penembakan neuron-neuron saraf pada korteks visual dalam otak. Ketika hal ini terjadi, "alur-alur" aktivitas neural bergerak menjauhi korteks visual, menuju retina mata. Alur-alur neural ini ditafsirkan oleh otak kita sebagai cincin-cincin atau spiral-spiral konsentris. Spiral-spiral ini dapat "dilihat" sebagai sebuah lorong lurus atau lorong berpilin, yang bergerak menuju retina mata yang di luarnya cahaya terang benderang memenuhi ruang kamar si pasien.

Kemampuan tubuh untuk mengindrai ruang (ini adalah suatu kemampuan korteks parietal lobe) condong keliru berfungsi juga selama seseorang mengalami PDK. Kembali otak anda menafsirkan informasi yang salah tentang di mana tubuh anda berada dalam hubungan dengan ruang di sekitarnya. Akibatnya, anda merasa sedang meninggalkan tubuh anda dan melayang-layang di sekitar ruang kamar. Jika keadaan ini ditambah lagi dengan akibat-akibat trauma dan keadaan kekurangan oksigen (suatu simtom dalam banyak situasi PDK), hal ini akan menciptakan suatu pengalaman menyeluruh bahwa anda sedang mengapung menuju antariksa sementara anda menatap ke bawah ke tubuh anda, lalu anda melayang masuk ke dalam sebuah lorong.

Perasaan damai dan tenang selama PDK dapat timbul dari mekanisme penanggulangan (coping mechanism) yang bekerja dalam otak anda, karena dipicu oleh peningkatan endorfins (zat kimiawi dalam otak yang berfungsi sebagai neurotransmitter, penerus gelombang listrik dalam sistem saraf) yang diproduksi dalam otak selama trauma. Banyak orang merasakan suatu perasaan aneh bahwa dirinya dijauhkan dari tubuhnya dan respons emosionalnya menghilang selama kejadian-kejadian yang traumatis (entah berhubungan atau tidak dengan PDK). Ini adalah akibat yang sama.

PDK atau PKT yang mencakup perkunjungan ke surga atau pertemuan dengan Allah dapat melibatkan banyak faktor yang terkombinasi. Input data yang salah, kekurangan pasokan oksigen, dan euforia yang ditimbulkan oleh endorfins, kerap memunculkan suatu pengalaman surrealis meskipun dirasakan nyata. Ketika si subjek yang mengalami PDK dan PKT mengingat pengalaman perjumpaan ini, pengalaman ini melewati filter pikiran sadarnya. Pengalaman-pengalaman yang aneh yang tampak tak bisa dijelaskan ditafsir sebagai pengalaman-pengalaman bertemu makhluk-makhluk cahaya atau makhluk-makhluk rohani, atau berada dalam dimensi-dimensi lain

Kemampuan untuk melihat dan mendengar kejadian-kejadian selama PDK dan PKT, yang tak mungkin dapat dicerap oleh tubuh mereka yang sudah tak sadar, lebih sulit untuk dijelaskan. Tetapi sangat masuk akal jika kita berpendapat bahwa seseorang yang  sudah tak sadarkan diri (atau mengalami koma) masih dapat mencatat dan mendaftarkan petunjuk-petunjuk indrawi (yang didengarnya dari orang-orang di sekitarnya) dan pengetahuan yang dimilikinya  sebelumnya (segala pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kebudayaannya dan pengetahuan keagamaannya), lalu memasukkan semuanya ke dalam PDK. Hal ini dimungkinkan oleh masih bekerjanya otak bawahnya, seperti sudah dikatakan di atas.

Sebagaimana ditemukan oleh neurolog kebangsaan Swiss, Dr. Olaf Blanke, ketika sedang melakukan pemetaan otak seorang pasien (umur 43 tahun) yang sering terserang epilepsi, jika kawasan persinggungan antara korteks temporal lobe dan korteks parietal lobe (dikenal sebagai “Temporal parietal junction”, TPJ), khususnya pada bagiannya yang dinamakan angular gyrus, diberi rangsangan gelombang listrik lewat elektroda, si pasien tiba-tiba saja mengalami PKT/OBE. Kata si pasien ini kepadanya, “Dok, dok, aku melihat diriku sendiri dari atas!”

TPJ selain berfungsi untuk menyatukan dan menyelaraskan berbagai informasi terpisah yang masuk ke dalam otak untuk ditafsirkan, juga berfungsi untuk mengontrol pemahaman atas tubuh dan situasinya di dalam ruang. Jika TPJ tidak bekerja dengan benar, PKT langsung terjadi. Jika informasi apapun yang sedang dipilah bersilangan, seperti informasi tentang di mana posisi kita di dalam ruang, tampaknya kita dapat dibebaskan dari batas-batas tubuh kita, mengalami PKT, sekalipun hanya sebentar.

Kalau PDK dapat muncul dari gangguan REM, yang dipicu di dalam pangkal otak yang terletak pada “lower brain”, PKT dikendalikan oleh kawasan TPJ yang terletak pada “higher brain”, yang secara klinis sudah mati ketika PDK terjadi. Maka tampaknya logis untuk percaya bahwa bagian-bagian otak yang terletak di sebelah atas (“higher brain”) harus masih berfungsi untuk dapat menafsirkan perasaan-perasaan yang ditimbulkan oleh gangguan REM yang dipicu di dalam pangkal otak.

Satu catatan akhir yang sangat penting pada bagian ini harus di kemukakan. Mata kita melihat sesuatu yang real dan kongkret karena ada berkas-berkas cahaya yang dipantulkan sesuatu ini yang masuk ke retina mata kita, lalu input data indrawi ini (dalam wujud partikel foton) diteruskan ke otak dan diubah menjadi informasi neural untuk ditafsirkan otak, sehingga kita bisa melihat dan memahami objek real yang kita lihat ini. 

Nah, suatu “tubuh astral” atau suatu “roh” yang tak berdaging, tubuh non-protoplasmik, yang tak memiliki sepasang mata yang real dan kongkret, tentu saja tak bisa menerima input cahaya yang dipantulkan dari tubuh jasmaniah atau dari benda-benda yang termasuk ke dalam dunia empiris. Dengan kata lain, semua pengalaman PDK atau PKT sebetulnya hanyalah halusinasi dan fantasi, tak real ada, yang berlangsung hanya dalam tempurung otak manusia karena dipicu oleh berbagai macam faktor internal maupun eksternal.


Dampak PDK dan PKT pada kepribadian   

Sebagaimana banyak survei sudah menunjukkan, dampak yang ditimbulkan oleh PDK dan PKT pada setiap orang yang mengalami, tidak sama.

Ada banyak subjek yang setelah mengalami kedua fenomena “di luar tubuh jasmaniah” ini berubah menjadi orang-orang yang melihat hidup mereka sarat dengan makna dan tujuan yang mereka dengan senang mau capai.  Mereka jadi sangat menghargai kehidupan, mengalami peningkatan cinta kasih dan bela rasa terhadap sesama manusia, makin sabar dan makin penuh pengertian. Mereka merasa makin memiliki kekuatan pribadi yang besar, makin mengalami penguatan rasa keagamaan dan kepercayaan pada dunia spiritual. Mereka tidak lagi takut terhadap kematian karena mereka sudah tahu dan meyakini apa yang akan mereka alami ketika sudah mati.

Tetapi tidak sedikit dari antara mereka malah terperosok ke dalam depresi, rasa takut yang berlebihan, berbagai gangguan mental, dan terus terpaku pada ihwal yang menakutkan bahwa mereka nanti akan mati.

Karena perkembangan atau kemunduran kepribadian juga diproses dalam otak, maka kita juga harus mewaspadai bahwa kemunduran kepribadian dan gangguan mental yang terjadi karena pengalaman-pengalaman spiritual, bisa dikarenakan pengalaman-pengalaman ini juga merusak atau mematikan fungsi-fungsi korteks-korteks neural tertentu dalam otak kita.


Pengalaman-pengalaman spiritual ternyata dapat
berdampak negatif pada otak

Dalam sebuah artikel yang berjudul “Religious Factors and Hippocampal Atrophy in Late Life”, yang diterbitkan pada 30 Maret 2011 di situs web PLoS One, Amy D. Owen et al., dari Duke University, melaporkan hasil-hasil suatu penelitian klinis (memakai manusia sebagai objek-objek yang diteliti, tidak hanya berdasarkan teori-teori) yang mencoba untuk menemukan hubungan antara struktur dan volume  neuroanatomi dalam otak manusia dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang mengubah kehidupan seseorang, pelatihan-pelatihan spiritual, dan keanggotaan dalam komunitas keagamaan.

Amy dkk memakai data sampel dari 268 orang usia lanjut (umur 58 tahun ke atas) yang berasal dari orang Protestan yang mengklaim sudah lahir baru (born-again Protestants), orang Katolik, dan orang-orang lain yang tak terikat pada suatu organisasi keagamaan, yang dibandingkan dengan orang Protestan yang tidak menyebut diri orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali.

Dengan melakukan brain mapping dan pengukuran volume sirkuit-sirkuit neural dalam otak seluruh sampel melalui teknologi pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging) resolusi tinggi,  penelitian yang dilakukan Amy dkk berhasil menemukan data yang sangat signifikan bahwa pada orang-orang yang mengklaim diri telah pernah mengalami pengalaman-pengalaman spiritual yang mengubah kehidupan mereka, volume struktur hippocampus (lihat lokasinya pada gambar 8 di bawah ini) pada otak kanan dan otak kiri menyusut―bagian otak ini mengerut, menjadi lebih kecil, dan berhenti bekerja.

Hippocampus adalah struktur pusat dari sistim limbik yang terlibat dalam pembentukan emosi dan formasi memori.  Sudah diketahui bahwa volume struktur hippocampus berkaitan langsung dengan keadaan mental manusia dan kekuatan daya ingat. Gangguan mental seperti stres dan depresi, telah diketahui menjadi penyebab terproduksinya hormon stres (cortisol, GH dan norepinephrine) dalam jumlah besar, yang mengakibatkan hippocampus lambat laun mengecil. Mengerutnya hippocampus adalah penyebab neural langsung orang terkena dementia (= penyakit serius kehilangan kemampuan kognitif untuk mengingat, jauh lebih buruk dari yang diharapkan terjadi pada orang yang mulai menua) dan penyakit Alzheimer.

Jadi, pengalaman-pengalaman spiritual yang intens, seperti pengalaman perjumpaan dengan Yesus / Nabi Isa as menurut keyakinan Islam, yang mengubah kehidupan seseorang (yang umum diklaim oleh orang Kristen “lahir baru”), khususnya orang yang sudah berusia lanjut, ternyata memperkecil volume sirkuit hippocampus dalam otaknya, dan keadaan ini tentu akan makin mempercepat kehilangan daya ingat (= pikun) dan makin mempermudah dirinya jatuh ke dalam stres dan depresi. Harus dicatat bahwa pengerutan volume otak secara global jelas dialami oleh manusia usia lanjut secara umum, tetapi tingkat atrofi (= pengerutan) ini berbeda-beda di antara wilayah-wilayah neural dalam otak.  

Jika atrofi pada hippocampus terjadi pada orang beragama di usia lanjut, keadaan ini juga bisa diharapkan muncul pada orang-orang yang berusia lebih muda jika mereka juga terbenam sangat dalam di dalam pengalaman-pengalaman keagamaan yang intens.

Amy dkk menegaskan bahwa penelitian dan pengkajian yang mereka telah lakukan, terbatas hanya pada faktor-faktor neurologis, dan tak memperhitungkan faktor-faktor sosiologis, psikososial dan demografis, yang tentu saja juga berperan besar dalam menimbulkan stres dan rasa cemas pada orang beragama.

Status sosiodemografis sebagai kelompok beragama minoritas jelas menimbulkan stres besar pada kelompok ini ketika mereka mencoba ikut mengatur masyarakat mereka. Orang yang sedang terbenam dalam pergulatan kepercayaan keagamaan, misalnya ketika dia menolak kepercayaan-kepercayaan yang dipegang kelompok arus utama dalam komunitas keagamaannya atau yang dipegang keluarganya, dan mempertahankan pandangannya sendiri, potensial mengalami stres dan konflik batin serta rasa cemas. Mempercayai dan tunduk pada suatu Allah yang dikonsep sebagai Allah pemarah dan penghukum, juga kerap menjadi penyebab timbulnya stres, rasa tak bahagia, dan ketakutan, pada diri banyak orang beragama. Orang yang merasa telah melanggar perintah-perintah Allah juga tak akan luput dari serangan stres dan rasa cemas.   

Tetapi, apa yang ditemukan Amy dkk bahwa pengalaman spiritual berfungsi negatif terhadap kesehatan otak manusia bertolakbelakang dengan pandangan yang selama ini dipegang bahwa agama, doa, pelatihan spiritual, meditasi, samadhi, dan berbagai macam faktor keagamaan, berdampak positif pada otak manusia, karena mengurangi kecemasan, rasa takut, stres, depresi, dan meningkatkan pengharapan.

Dalam ulasan pendeknya atas penelitian Amy dkk, seorang neurosaintis terpandang, Andrew Newberg, mengingatkan bahwa hal yang sebaliknya bisa juga terjadi: orang yang sebelumnya memang memiliki hippocampus yang volumenya lebih kecil dibandingkan volume rata-rata, dapat memperlihatkan sifat-sifat keagamaan yang spesifik, misalnya enthusiasme religius yang sangat tinggi, keadaan mudah terseret ke dalam praktek-praktek keagamaan yang emosional, Tetapi, pada pihak lain, Newberg juga membenarkan bahwa agama mempengaruhi otak manusia, entah secara positif ataupun secara negatif.

Inilah sementara artikel tentang neuroscience yang bisa kami berikan. Kalau terlalu panjang nanti anda malah tambah pusing. Untuk artikel lanjutannya bisa anda baca disini.. Yakni tentang meditasi ditinjau dari Neuro Science.


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment