Feb 20, 2014

Meditasi Ditinjau dari Neuro Science

Awal pembahasan sudah kita mulai dengan hubungan neuroscience dan PDK serta PKT. Artikel berikutnya membahas tentang meditasi ditinjau dari neuroscience. Artikel bersumber dari Dr. Dr.Ioanes Rakhmat.

Meditasi intens menimbulkan perubahan-perubahan khusus
pada otak, khususnya sirkuit hippocampus dan frontal lobes  

Beberapa kajian ilmiah, sebaliknya, menunjukkan bahwa meditasi yang sangat intens dan dilakukan terus-menerus dan konstan dalam jangka panjang telah memberi dampak positif pada struktur hippocampus dan frontal lobe: (a) selama meditasi yang intens, hippocampus diaktivasi, dan (b) meditasi yang dilakukan dalam jangka panjang dan terus-menerus memperbesar volume hippocampus dan frontal lobe.

Jika aktivitas frontal lobes meningkat, lewat meditasi intens misalnya, sementara aktivitas sistim limbik menurun, maka orang akan merasakan kedamaian dan ketenteraman, karena zat kimiawi endorfins terbentuk dan mengalir deras dalam otak. Semakin orang giat dalam kegiatan intelektual, semakin kuat frontal lobe-nya. 

Sebagaimana diuraikan Andrew Newberg & Mark Robert Waldman dalam buku How God Changes Your Brain, frontal lobes menjadikan kita manusia yang unik. Di bagian korteks neuron inilah berakar imajinasi, kreativitas, orisinalitas dan kemampuan bernalar dan berkomunikasi dengan orang lain, dan kemampuan untuk menjadi lebih damai, lebih berbelarasa, dan lebih termotivasi. Bagian ini memungkinkan kita untuk membuat sebuah konsep logis mengenai suatu Allah yang rasional, bijaksana dan pengasih.

Meditasi juga berhubungan erat dengan strukturthalamus dalam otak. Menurut Newberg dan Waldman (Ibid.), thalamus adalah suatu stasiun pemroses besar dalam organ otak manusia: segala pengindraan, suasana atau modus dan isi pikiran melewati organ otak ini ketika informasi diteruskan ke bagian-bagian lain otak. Semakin anda terbenam ke dalam perenungan tentang suatu objek khusus, semakin aktif thalamus anda. Jika thalamus tidak berfungsi lagi, maka orang akan mengalami keadaan koma. Bahkan kerusakan kecil saja pada thalamus, akan menghambat kinerja bagian-bagian lain otak manusia.

Pada thalamus inilah otak kita memberi kita kemampuan untuk merasakan sesuatu yang kita sedang pikirkan sebagai sebuah kenyataan, seolah gagasan-gagasan kita adalah suatu objek yang nyata di dalam dunia ini. Semakin anda memikirkan suatu gagasan berulang kali dan dengan sangat serius, maka thalamus memberi respons berupa sebuah impresi dalam diri anda bahwa gagasan ini adalah suatu objek nyata. Di dalam thalamus inilah makna emosional diberikan kepada pikiran-pikiran kita yang muncul di dalam frontal lobes, sehingga kita tidak ingin dipisahkan dari pikiran-pikiran kita.

Sehubungan dengan agama, thalamus memberi suatu makna emosional pada konsep-konsep anda tentang Allah: organ inilah yang membuat anda mencinta Allah anda (atau sebuah gagasan anda tentang Allah) dan tidak ingin dipisahkan darinya. Thalamus memberi anda suatu makna menyeluruh mengenai dunia ini dan tampaknya merupakan suatu organ kunci yang membuat Allah terasa objektif dan nyata.

Jika thalamus terus diaktifkan melalui meditasi (yang di dalamnya orang sungguh-sungguh memikirkan gagasan-gagasannya sebagai kenyataan real dalam dunia objektif), maka mereka akan memandang kenyataan secara berbeda dari pandangan yang normal dan biasa. Jika seorang praktisi meditasi tingkat tinggi sungguh-sungguh memikirkan dan memandang Allah, ketenteraman dan kesatuan dengan segala yang ada dalam jagat raya sebagai kenyataan-kenyataan real dalam kehidupan, maka (salah satu) organ thalamus-nya terus aktif (sekalipun dia tidak sedang bermeditasi) dan keadaan ini memberi kepadanya suatu kesadaran yang melampaui keadaan sadar yang biasa: pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinannya bukan lagi ada hanya dalam dunia gagasan, tetapi betul-betul dialaminya dengan jelas dalam dunia nyata. Dalam hal ini, pikiran atau mind menjadi sama dengan atau menghasilkan realitas, tentu dalam arti thalamus memungkinkannya untuk berpikiran, bersikap dan berperilaku sedemikian rupa sehingga segala sesuatu di dalam dan lewat dirinya berjalan selaras dengan atau mewujudkan apa yang dipikirkannya.

Dalam meneliti pengalaman-pengalaman spiritual, Andrew Newberg memakai metode pencitraan otak yang disebut single photon emission computed tomography (SPECT) selama aktivitas keagamaan berlangsung. SPECT menghasilkan gambar-gambar aliran darah dalam otak pada suatu waktu tertentu; makin banyak aliran darah yang masuk, ini menandakan aktivitas otak yang meningkat. 

Newberg meneliti aktivitas otak para rahib Buddhis Tibet ketika mereka sedang bermeditasi. Para rahib ini memberitahu Newberg bahwa mereka akan segera masuk ke dalam suasana meditatif intens dengan menarik seutas dawai. Pada momen ini, Newberg menginjeksikan zat pewarna radioaktif ke dalam pembuluh darah mereka lalu mengambil gambar otak. Seperti dilaporkan dalam artikel Shankar Vedantam, Newberg menemukan bahwa aktivitas di frontal lobe meningkat ketika meditasi mulai berlangsung, menandakan bahwa aktivitas berkonsentrasi sedang berlangsung dalam korteks ini.

Sebagaimana dilaporkan Steve Paulson dalam artikel yang berjudul “Divining the Brain”, Newberg juga menemukan bahwa selama meditasi berlangsung, aktivitas di parietal lobe menurun drastis. Parietal lobe berfungsi antara lain untuk memampukan seseorang menentukan posisinya dalam suatu ruang tiga dimensi. Newberg berpendapat bahwa berkurangnya aktivitas di korteks ini secara drastis ketika para rahib itu sedang bermeditasi menandakan bahwa mereka kehilangan kemampuan mereka untuk membedakan di mana mereka berakhir dan di mana sesuatu yang lain dimulai dalam suatu ruang tiga dimensi. Dengan kata lain, mereka menjadi satu dengan jagat raya, suatu keadaan yang sering digambarkan sebagai suatu momen menyatu dengan “yang transenden”.

Dalam suatu studi lainnya, dengan subjek kajian para biarawati, Newberg (sebagaimana dilaporkan juga oleh Steve Paulson, Ibid.) juga menemukan aktivitas yang sama dalam otak ketika para biarawati ini sedang berdoa kepada Allah, tidak bermeditasi seperti para rahib. Aktivitas di frontal lobe para biarawati ini meningkat ketika mereka mulai memusatkan pikiran mereka pada doa mereka, dan aktivitas di parietal lobe menurun tajam, tampaknya menandakan bahwa mereka telah kehilangan kesadaran diri mereka dalam hubungannya dengan dunia nyata dan dengan begitu mereka dapat masuk ke dalam cahaya Allah. 

Tetapi terdapat perbedaan dalam aktivitas otak ketika kajian dilakukan terhadap orang Kristen Pentakostal yang sedang terbenam dalam aktivitas “berbahasa lidah” (glossolalia). Ketika aktivitas keagamaan ini sedang berlangsung, aktivitas frontal lobe mereka malah menurun, dan hal ini menandakan bahwa pikiran mereka tidak terpusat dan mereka tak mampu berkonsentrasi, dan bersamaan dengan menurunnya aktivitas di frontal lobe kemampuan berpikir rasional pun perlahan menghilang, dan suatu impresi tentang suatu Allah yang tidak rasional mulai muncul dan menguat, lalu mengambil kendali atas dirinya.

Bahwa mereka mulai membangun suatu gambaran tentang Allah yang tidak rasional, yang mengambil kendali atas kesadaran diri dan rasionalitas mereka, diperlihatkan juga oleh tidak aktifnya pusat bahasa dalam otak (Steve Paulson, Ibid.) (untuk korteks bahasa dalam otak, lihat gambar 6) meskipun mereka sedang aktif berbahasa lidah. Keadaan aktivitas otak yang semacam ini memang sejalan dengan kepercayaan kalangan Pentakostal bahwa dalam berbahasa lidah, mereka kehilangan kendali atas diri sendiri dan tak mampu berpikir rasional, sebab yang sekarang berkuasa atas diri mereka dan sedang berbicara lewat lidah mereka adalah sesuatu yang lain, yang mereka yakini sebagai Allah atau Yesus yang sedang berfirman melalui mereka. Apapun yang diucapkan lewat lidah mereka ketika mereka sedang berada dalam situasi mental semacam ini, semuanya tak terkontrol oleh akal budi mereka.


Menciptakan sendiri pengalaman-pengalaman spiritual

Jika semua pengalaman religius yang digambarkan di atas, dalam kaitan dengan PDK dan PKT, meditasi para rahib, kegiatan doa para biarawati, dan aktivitas berbahasa lidah orang Kristen kharismatik/Pentakostal, hanyalah aktivitas berbagai bagian neural dalam otak, maka muncul sebuah pertanyaan: Apakah Allah atau suatu kekuatan adikodrati hanya ada di dalam tempurung kepala kita? Jika memang demikian halnya, apakah tanpa lewat meditasi, tanpa lewat doa, dan tanpa lewat kegiatan berbahasa lidah, tanpa keharusan berpuasa, kita semua dapat langsung mengalami atau menciptakan sendiri berbagai pengalaman mistikal itu?

Neurosaintis Michael A. Persinger berpendapat, ya kita dapat menciptakan sendiri semua pengalaman keagamaan yang kita kehendaki. Persinger telah menulis sebuah buku bagus, berjudul Neuropsychological Bases of God Beliefs.

Menurutnya, setelah melakukan banyak eksperimen klinis, semua kepercayaan kepada Allah dan semua pengalaman spiritual/paranormal (seperti PKT/OBE, atau perasaan kuat bahwa sesuatu yang supernatural, Allah atau malaikat atau suatu demon/setan, hadir dekat kita, yang disebutnya “a sensed presence”) memiliki basis fakta bukan di dunia adikodrati, melainkan pada kerja neuron-neuron otak kita, yakni ketika temporal lobes dari otak kiri (wilayah neural dalam organ otak, yang terletak persis di atas telinga) diberi rangsangan medan elektromagnetik secara teratur lewat elektroda yang dipasang pada sebuah helm yang sudah dimodifikasi, lalu helm ini, yang dikenal sebagai “God Helmet”, dipasang pada kepala si subjek yang sedang diteliti.

Rangsangan medan elektromagnetis ini menimbulkan apa yang disebut temporal lobe transients, yakni peningkatan dan ketidakstabilan pola-pola penembakan neuron-neuron otak dalam aktivitas elektrokimiawi pada wilayah temporal lobe ini. Ketika keadaan ini tercipta di temporal lobe otak kiri, sehingga tak terjadi sinkronisasi antara otak kiri dan otak kanan, temporal lobe pada otak kanan mengalami gangguan, dan gangguan pada otak kanan ini ditafsirkan oleh otak kiri sebagai suatu “kehadiran diri lain” atau suatu “kehadiran yang dirasakan.” Pada kondisi kerja otak yang normal, temporal lobe otak kiri dan temporal lobe otak kanan secara sinkron dan harmonis memberi kesadaran pada diri kita bahwa kita ini memiliki “satu identitas” diri; ketika sinkronisasi dan harmoni antara keduanya tak terjadi, temporal lobe otak kiri menafsirkan “jati diri” yang muncul dalam temporal lobe otak kanan sebagai “suatu diri yang lain” (santa/santo, malaikat, bahkan demon).

“God Helmet” yang digunakan Persinger dalam studi-studinya mendapat perhatian kalangan luas. Kurang lebih 80 % pengguna helm khusus ini merasa ada suatu kehadiran spiritual di sisi mereka ketika pengujian sedang dijalankan.

Ketika helm istimewa ini selama 40 menit dikenakan pada Prof. Richard Dawkins, seorang ateis dan kritikus agama, biologiwan yang termasyhur ini tak berhasil mengalami perasaan dihadiri Allah di sisinya, tetapi pernafasan dan anggota-anggota tubuhnya terpengaruh oleh helm ini. Mungkinkah keadaan yang dialami Dawkins ini menunjukkan bukan kegagalan kerja God Helmet, tetapi karena Dawkins, seperti dikatakan Uskup Stephen Sykes dalam konteks lain, tidak memiliki “bakat untuk agama”? Atau, barangkali Dawkins, selama uji coba helm istimewa itu, melakukan perlawanan mental terhadap situasi yang di atas disebut temporal lobe transients?

Michael Shermer, misalnya, seorang skeptik dan penulis banyak buku kajian neurosains, pernah juga menjadikan dirinya subjek uji coba God Helmet. Pada uji coba ronde pertama, karena dia tidak percaya dan melakukan perlawanan mental terhadap suasana neurologis yang ditimbulkan helm ini, dan ingin mengontrolnya, dia gagal mengalami fenomena paranormal. Tetapi pada uji coba ronde kedua, ketika dia menuruti kekuatan magnetisme yang melanda temporal lobe-nya, dia sedikit banyak terhanyut ke dalam suatu pengalaman yang dirasakannya aneh dan tak biasa, seperti diakuinya dalam bukunya, bahwa dia merasa sedang terlibat dalam suatu pertempuran sengit antara bagian rasional dan bagian emosional otaknya "untuk memutuskan apakah perasaan bahwa aku ingin meninggalkan tubuhku sendiri adalah suatu perasaan yang real."

Meskipun God Helmet-nya gagal bekerja pada diri Richard Dawkins, si pembuat helm ini, Persinger, tidak patah semangat. Menurutnya, kepekaan temporal lobes terhadap magnetisme berbeda-beda dalam diri setiap orang, dan orang-orang yang mengidap temporal lobe epilepsy (TLE) khususnya sangat sensitif terhadap medan magnet.

Bahkan Persinger berpendapat bahwa ada orang yang secara genetik memiliki kecondongan untuk bisa merasakan dan terpengaruh oleh sesuatu yang “adikodrati”, dan mereka yang semacam ini tidak memerlukan God Helmet untuk mengalami pengalaman-pengalaman keagamaan. Menurutnya, medan elektromagnetik yang tercipta secara alamiah (lewat kejadian alam) dapat juga memunculkan pengalaman-pengalaman keagamaan. Sebagai contoh, ketika Bumi dihujani meteor-meteor dari angkasa luar yang memancarkan gelombang elektromagnetik yang sangat kuat, Joseph Smith, sang pendiri Gereja Orang Suci Zaman Akhir, mengklaim dikunjungi malaikat Moroni, dan Charles Taze Russell mendirikan Saksi Yehovah.  

Jika magnetisme yang dengan kuat merangsang korteks-korteks neural dalam otak manusia memunculkan berbagai macam pengalaman spiritual, maka sesungguhnya pengalaman-pengalaman ini, dalam bentuk yang masih sangat natural dan primitif, belum dirasionalisasi dan disistematisasi ke dalam suatu belief system, juga mustinya sudah dialami oleh homo sapiens (makhluk cerdas) ketika "animisme" menjadi bagian sehari-hari kehidupan spesies ini sekitar 14.000 tahun yang lalu, di era pra-sejarah dan pra-ilmiah, sementara spesies cerdas ini sendiri sudah muncul di muka Bumi 200.000 tahun yang lalu setelah melewati proses evolusi biologis yang memakan waktu sangat panjang. Pada sisi lain, kita tahu, sejak awal planet Bumi terbentuk (3,5 milyar tahun yang lalu), dari inti dalam planet ini memancar medan magnit Bumi, yang membuat kedua kutub Bumi bersifat magnetis. Selain itu, di ruang antarbintang dan antarplanet, dan antargalaksi, juga memancar gelombang elektromagnetis. Jadi, alam sendiri memang memungkinkan pengalaman-pengalaman spiritual akhirnya muncul sebagai bagian dari berbagai kejadian alamiah: evolusi spesies (khususnya evolusi otak homo sapiens) dan magnetisme Bumi.

Selain lewat rangsangan medan elektromagnetis pada korteks-korteks otak, PKT atau OBE juga dapat dialami, sebagaimana disarankan Prof. Richard Wiseman dalam bukunya Paranormality, lewat latihan-latihan yang mencakup relaksasi (yang disebutnya "relaksasi otot progresif", dengan mula-mula menegangkan berbagai otot di seluruh tubuh anda, lalu melepas semua ketegangan otot itu), visualisasi (membayangkan di depan anda berdiri duplikat diri anda, yang selanjutnya melakukan berbagai kegiatan di dalam ruang di mana anda berada atau di luar ruang), dan konsentrasi (pusatkan pikiran anda pada satu tujuan anda: menyatu dengan duplikat diri anda, dan melaksanakan semua yang anda telah bayangkan dilakukan oleh duplikat diri anda). Pada bagian akhir uraiannya tentang OBE, Wiseman menulis, "OBE bukan paranormal dan tidak memberi bukti adanya jiwa manusia, melainkan menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih luar biasa mengenai kerja otak dan tubuh anda sehari-hari."


Penutup

Siapapun, kapan pun dan di mana saja, dapat mengalami berbagai pengalaman keagamaan yang sudah dikemukakan di atas, jika berada dalam situasi dan kondisi berikut ini: kekurangan oksigen (misalnya ketika sedang berada di puncak gunung sangat tinggi), menghirup carbon dioksida (CO2) dalam jumlah berlebih (keadaan klinis yang dinamakan hypercardia), mengalami trauma, kehilangan banyak darah, terserang penyakit-penyakit berat (seperti serangan jantung, epilepsi, dan trauma pada otak), sedang terserang stres dan depresi, meminum obat-obat yang berefek halusinogenis, anastetis dan neurotoksis, menerima rangsangan gelombang elektromagnetis pada korteks-korteks otak, pikiran yang terkonsentrasi, mengalami kelelahan berat dan kurang tidur yang berlarut-larut, dan kecondongan-kecondongan genetik.

Tak pelak lagi, harus disimpulkan bahwa berbagai pengalaman spiritual yang di antaranya sudah diuraikan di atas bisa berlangsung bahkan dengan sangat intens karena organ otak manusia memang memiliki berbagai kemampuan neural untuk menimbulkan pengalaman-pengalaman itu. Semua pengalaman spiritual dengan demikian terhubung sangat kuat, hard-wired, dengan neuron-neuron dalam organ otak; atau sebaliknya, otak manusia hard-wired dengan pengalaman spiritual. Dengan kata lain, “roh” (spirit) atau “pikiran” (mind) manusia ada karena otak bekerja. Otak dan “roh” tak terpisah; otaklah yang memunculkan “roh”. Tanpa organ otak, tak ada roh. Tanpa tubuh, tak ada pikiran. Keduanya menyatu, tak terpisahkan. Kalau tubuh mati, maka “roh” dan pikiran pun lenyap, tidak pergi ke “suatu tempat” lain dalam dunia immaterial.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, ketika dalam suatu pengalaman spiritual seseorang merasa “roh”-nya keluar dari tubuhnya, atau terbang melayang ke angkasa, perasaan ini timbul karena aktivitas otaknya, tak lebih dan tak kurang. Sesuatu sedang terjadi bukan di luar otaknya, bukan di dalam dunia immaterial adikodrati, tetapi di dalam tempurung kepalanya, di dalam organ lunak keabu-abuan yang beratnya 1,5 kg, yang kita namakan otak.

Michael Shermer dalam bukunya, The Believing Brain, dengan bagus menyatakan, “Pikiran adalah apa yang dikerjakan otak. Tidak ada apa yang disebut ‘pikiran’ pada dirinya sendiri, di luar aktivitas otak. Pikiran hanyalah sebuah kata yang kita gunakan untuk mendeskripsikan aktivitas neurologis dalam otak. Jika otak tak ada, pikiran juga tak ada. Kita mengetahui ini karena jika suatu bagian dari otak hancur karena stroke atau kanker atau luka atau pembedahan, apapun yang bagian otak yang rusak itu sebelumnya lakukan, kini lenyap sama sekali.... [T]anpa koneksi-koneksi neural dalam otak, pikiran tidak ada.” Jadi, tak ada zat yang dinamakan roh atau pikiran yang faktual bisa lepas dari tubuh manusia.

Itulah pandangan dari Dr. Rakhmat tentang hubungan Pengalaman Spiritual ditinjau dari Neuro Science. Barangkali membuat anda pusing namun jika menambah ilmu tidak ada salahnya. Paling tidak menambah kecerdasan kita sebagai manusia.

Lalu bagaimana hubungan antara pengalaman-pengalaman spiritual muslim dilihat dari ilmu neuroscience? Nanti coba saya pelajari lebi dalam, untuk kemudian saya coba tuliskan disini. 

Sumber: disini



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment