Feb 27, 2014

Inilah Bahayanya Merasa Hebat/ Takabur

Seringkali kita tidak menyadari ucapan yang dikeluarkan telah sudah menyakiti teman bicara. Barangkali ucapannya benar namun cara penyampaiannya sering kurang elok, sehingga kebenaran yang hendak disampaikan berubah menjadi permusuhan.

Coba perhatikan ucapan berikut ini, kemudian rasakanlah

"Saya ini yang mempunyai daerah serta lingkungan ini. Anda datang yang katanya hanya silaturahim kok ujug-ujug membawa pesan propraganda. Kalau saya tidak melihat Si Anu tentu kalian semua sudah saya usir. Lho ini serius, ini benaran jangan dikira bercanda. Walau saya sendirian saya tidak takut, saya hanya takut Tuhan".

"Saya sudah sakit hati dengan janji-janji. Katanya mau bantu ini dan itu tetapi nyatanya nol besar. Apalagi kalian. Kalian tidak layak untuk masuk ke lingkungan saya dan menawarkan bantuan. Kalian masih terlalu rendah yang hanya bikin teori saja. Harusnya khan take and give bukan take lalu lari. Ini saya serius lho? Jangan kau anggap bercanda"

"Saya sudah pernah dizolimi beberapa kali, dan sudah kapok. Kalian adalah orang yang kesekian kalinya membawa janji-janji. Kalian tidak mengerti daerah saya yang ngerti itu saya dan orang-orang yang tinggal disini. Ini maaf ini, saya tensinya agak tinggi karena baru pulang kerja kejebak macet, ujug-ujug ada orang didaerah lain yang propaganda. Kalau tidak melihat dia, pasti sudah saya usir. Lho nggak papa to? Ini wilayah saya, daerah saya bung"

Pembaca....
Sekilas memang nyata apa yang disampaikan. Oh ya, ini cerita berdasarkan kisah nyata lho? Apa yang disampaikan oleh Tetua diatas benar adanya tetapi kok rasanya lain ya? Kebenaran yang disampaikan dengan nada yang tidak mengenakkan. Terkesan takabur dan membanggakan diri, terlepas dari pengalaman pahit masa lalu.

Maka wajar adanya jika yang terjadi setelah acara tersebut ada sedikit gesekan antar kedua pihak.

Memang sulit ya, mengontrol dan mengendalikan diri. Apalagi berada dipihak yang benar. Kita cenderung merasa benar dan parahnya lagi merasa takabur. Kalau menurut saya lebih baik sampaikan segala keluhan, kekecewaan dan lain sebagainya dengan baik dan santun.

Ingat kisah nyata Iblis? Dia dan kaumnya pernah selama ribuan tahun beribadah. Bahkan malaikat kalah dengan tingkat spiritualiast Iblis. Sampai kemudian Allah swt hendak menciptakan manusia yang nampaknya kelihatan rendah dan hina.

Barangkali ketika Allah menciptakan manusia Iblis dan kaumnya tertawa..
"Hahahahaa, ini to yang namanya manusia? Yang katanya bisa lebih hebat dari malaikat? Orang diciptakannya saja dari tanah, mana bisa lebih hebat dari malaikat, apalagi kita-kita yang notabene lebih tinggi dari malaikat", kata Iblis tertawa terpingkal-pingkal

Kemudian pada saat Allah swt menyuruh Iblis dan Malaikat untuk sujud sebagai wujud rasa hormat kepada Adam as, maka sujudlah malaikat semuanya kecuali Iblis. Iblis mungkin benar, karena sudah ribuan tahun beribadah tentu ilmunya jauh lebih hebat. Paling tidak merasa benar dan merasa hebat. Iblis takabur dan tidak mau menghormati Adam as.

Kesombongan Iblis dan Kaumnya dibalas oleh Allah swt dengan kutukan sepanjang masa. Maka hilanglah makna ibadah selama ribuan tahun oleh kesombongan yang hanya satu biji saja. Inilah ibroh atau pelajaran yang bisa kita petik hikmahnya. Bahwa sepandai-pandai kita, atau sehebat-hebatnya kita tetaplah jaga kesantunan. Tetaplah rendah hati dan jangan sombong. Jangan sampai kesombongan itu membuat segala amal kita menjadi hangus terbakar alias tidak ada manfaatnya sama sekali.

Saya teringat dengan ucapan Tetua tadi, "Saya tidak takut pada manusia, saya hanya takut kepada Tuhan, makanya kalau tidak melihat si anu kalian semua sudah saya usir"

Kalimat diatas nampaknya benar, namun terasa tidak enak didengar. Kelihatan sebuah kebenaran tetapi masalah perasaan siapa yang tahu?. Mungkin kalimatnya "Saya hanya takut Tuhan", tetapi jika dalam hati ada kesombongan dan merasa hebat maka kata-kata tadi hanyalah klise semata. Pembenaran yang justru menyesatkan dirinya sendiri. Ditipu oleh dirinya sendiri..

Dipersembahkan oleh Magis7. 7 Langkah Magis Mengendalikan Rasa Sombong



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment