Jan 21, 2014

Ujian Bagi Manusia Beriman dan Solusinya

Semua manusia pasti mendapatkan ujian dalam hidup, khususnya bagi orang-orang yang beriman. Tidak mungkin tidak. Dan Allah swt sudah memberikan jaminan solusi bagi ujian tersebut. Tugas manusia sederhana saja. Hadapilah ujian tersebut sebagai sebuah tes. Hadapilah dengan cara-cara yang sudah ditunjukkan_Nya. Its so simple

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : ‘ Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi (2) Dan sesunggunya KAMI  telah menguji orang2 yang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang2 yang benar dan sesungguhnya DIA mengetahui orang2 yang dusta (3).” (Al – Ankabuut (29), ayat 2-3).

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan DIA Mahaperkasa, Mahapengampun.” (Al – Mulk (67), ayat 2).

Ketika anda mengatakan saya adalah muslim yang beriman kepada Allah swt. Maka yakin kedepannya akan ada ujian keimanan itu. Ujian itu bisa berupa kesedihan, kehilangan, kesulitan, kegagalan, kemiskinan dan bahkan kekayaan dan keberlimpahan. Semua untuk membuktikan ucapan kita sebagai orang yang percaya kepada Allah swt dan bergantung kepada_Nya. Kemudian agar jelas siapa yang benar dan siapa yang hanya manis dimulut saja.

 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang2 yang shalih, kemudian disusul oleh orang2 yang mulia, lalu oleh orang2 yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Jika kita mengetahui Ilmu dan hikmah maka kemudian akan ada ujian berupa pengamalan ilmu dan hikmah tersebut. Namun segala ujian hidup seseorang tidaklah diluar kesanggupannya.
“kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” ( QS. 23:62 )

“karena sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” ( QS 94: 5-6 )

“…Barang siapa bertaqwa kepada ALLAH niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka- sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada ALLAH niscaya ALLAH akan mencukupkannya…” ( QS 65: 2-3 )


KAMI akan menguji kamu dengan keburukkan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada KAMI-lah kamu dikembalikan.” (Al –Anbiya (21), ayat 35).

Jadi semua hal baik keburukan dan kebaikan adalah ujian. Kemiskinan ataupun kekayaan sama-sama ujian, jadi jangan membeda-bedakan. Ketika miskian apakah mau bersabar atau tidak, kemudian setelah kaya mampu bersukur apa tidak.

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang2 terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rosul dan orang2 yng beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan ALLAH ? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH itu amat dekat.”” (Al –Baqarah (2), ayat 214).

Kamu benar-benar akan diuji terhadap hartamu dan dirimu………” (Ali – Imran (3), ayat 186).

 ”Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-KU yang bersyukur.” (Saba’ (34), ayat 13).

Artinya solusi segala ujian dan permasalahan bagi orang yang beriman adalah bersabar dan bersukur. Sabar dalam keburukan dan sukur dalam kebaikan

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (Az-Zumar (39), ayat 10).

Seorang Mukmin semua urusannya adalah baik, jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur. Dan jika ia mendapat kesulitan, kesusahan, atau penyakit, maka ia bersabar.

Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Jahya (Shuhaib) bin Sinan Arrumy radhiyallaahu ‘anhu berkata : “Bersabda Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ’Sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena segala keadaan untuknya selalu sangat baik dan hal ini tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi orang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita kesusahan ia sabar, maka sabar itu lebih baik baginya.‘” (HR. Imam Muslim, Riadus Shalihin I – Bab. Sabar No. 3, hal.52).

ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala berfiman :
Dan sungguh akan KAMI berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar (155), yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun’ (156) Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari ROBB-nya, dan mereka itulah orang2 yang mendapat petunjuk (157).” (Al –Baqarah(2), ayat 155-157).

ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa DIA akan memberikan cobaan kepada hamba2-NYA, terkadang ALLAH Ta’ala memberikan ujian berupa kebahagian dan terkadang DIA memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut, kelaparan, hilangnya harta, kematian keluarga, kerabat, sahabat dan orang2 yang dicintai, rusaknya kebun dan ladang.

Namun ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala memuji  hamba-NYA yang terkena musibah kemudian menerima musibah itu dengan sabar dengan menghibur diri dengan ucapan “Sesungguhnya kami adalah milik ALLAH dan kepada-NYA kami kembali”, mereka yakin bahwa diri mereka adalah milik ALLAH, serta ALLAH memperlakukan hamba-NYA sesuai dengan kehendak-NYA. Selain itu mereka pun yakin bahwa DIA tidak menyia-nyiakan amalan mereka, meskipun hanya sebesar dzarrah pada hari kiamat kelak.

Keyakinan ini menjadikan mereka mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala, dan mereka akan kembali kepada-NYA kelak di akherat dan ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala tegaskan dalam ayat ini bahwa “orang2 seperti ini adalah orang2 yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari ROBB mereka dan mereka orang2 yang mendapat petunjuk“.

Ayat2 yang mulia diatas menjelaskan bahwa merupakan suatu keharusan bahwa seorang mukmin akan diuji keimanannya berkaitan dengan segala hal yang berada di sekitarnya, apakah hartanya, dirinya, isterinya/suaminya, anak-anaknya, keluarganya, kerabatnya, pemimpinnya, bawahannya, jabatannya, pemerintahannya dlsb. Dan ia akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ia akan diberikan ujian yang berat pula. Syukur Alhamdullilah kita dapat menegakkan tauhid dan beribadah dengan nyaman di negeri ini.

Demikianlah, keimanan yang benar pasti akan melahirkan ketaatan terhadap syariah-NYA. Oleh karena itu, keterikatan dan ketaatan terhadap syariah bisa dijadikan sebagai tolok keimanan seseorang. Ketika seseorang senantiasa terikat dan taat terhadap syariah, sesulit dan seberat apa pun, keimanannya telah terbukti benar. Sebaliknya, ketika tidak mau taat, apalagi menolak, tentulah keimanannya patut diragukan. Semoga kita termasuk orang yang benar. Wallahu a’lam.

Pustaka
http://imamherlambang.com
FB: Indahnya Ayat-Ayat Al Qur'an


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment