Jan 13, 2014

Begini Seharusnya Cara Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw

Setiap tanggal 10 Rabiul Awwal kita ummat Islam selalu memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Di kota-kota, desa desa dan disetiap sudut pelosok negeri masyarakat sudah mentradisikan ritual Maulid itu.

Terinspirasi dari http://lifestyle.kompasiana.com Dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, umat Islam merayakannya dengan dengan berbagai kegiatan, ada pengajian, sholawatan, Lomba karya seni Islami dll. Namun ada tradisi Mauludan yang sampai saat ini masih eksis dan dijalankan oleh sebagian umat Islam. Tradisi itu adalah dengan berziarah ke makam-makam keramat dan memandikan benda-benda pusaka.

Ziarah ke makam keramat, seperti makam Waliyulloh dan orang-orang yang pernah berjasa menyebar luaskan Islam, menurut saya kalaulah ritual zarah itu untuk mendo’akan serta ingin menauladani perjuangan para Waliyulloh itu, saya sangat setuju dan tradisikan zarah itu. Namun kalaulah ternyata ritual zarah itu hanya untuk mencari karomah dan barokah maka jangan sampai terjebak kedalam perbuatan syirik.

Apalagi dengan ritual memandikan benda-benda pusaka yang dilaksanakan setiap maulid ini, mengindikasikan pada perbuatan syirik yang tidak dapat dimengerti oleh nalar yang jelas. Kenapa pemandian benda-benda itu tidak dimandikan dalam bulan-bulan lainnya dan kenapa pemandian itu dihubungkan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Substansi Maulid Nabi Muhammad SAW dititik beratkan pada bagaimana kita menyegarkan lagi memori kita untuk selalu menauladani perjuangan Rosulullah. Maka peringatan Maulid itu akan terasa manfaatnya oleh Umat Islam itu sendiri, mereka bisa memacu lagi bebagai amalan ibaddah yang lebih berkualitas dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rosul-Nya.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab 21).

Apakah kita sudah berusaha semaksimal mungkin meneladani Beliau saw baik dari segi akhlak, ibadah dan muammalah? Tengoklah dirimu... Kalau dirasa belum maka mulailah dengan niat untuk berusaha semaksimal mungkin meneladani akhlak Nabi saw.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosadosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran 31).

Apa ahlak nabi? Ia adalah Al Qur'an. Apakah anda sudah membaca dan mengetahui kandungan Al Qur'an? Sekali lagi tengoklah dirimu. Siapa Nabi Muhammad saw? Dimana beliau lahir? Kapan mendapat wahyu? Bagaimana perjuangannya? Apakah anda sudah tahu??? Lagi-lagi tengoklah dirimu. Nampaknya kita masih perlu banyak belajar tentang sejarah atau sirah nabawiyah.
http://hjkarpetmasjid.blogspot.com/

Jika memang kita mencintai Nabi saw, sudah pasti kita akan mengikuti tata-cara dan akhlak beliau. Dengan cara apa? Dengan cara belajar melalui Al Qur;an dan As Sunnah. Itulah jawaban bagi siapa saja yang mengaku mencintai Beliau saw.

Sobat...
Kadangkala ritual kita, ibadah kita, perbuatan kita nyata adanya jauh dari substansi, hanya ritual yang kering makna.Itulah mengapa ritual yang melelahkan tersebut tidak memberikan efek rohani yang signifikan. Padahal jika kita menerapkan ibadah dengan benar sesuai tuntunan, niscaya kita akan merasakan manisnya iman. Manisnya kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Wallahu A'lam



Artikel Terkait



1 comment: