Sep 3, 2013

Zul dan Kisah Suksesnya Bagian 1

Syahdan, 33 tahun yang lalu di sebuah desa yang cukup terpencil lahirlah seorang bayi yang bernama Zul. Dirumahnya yang hanya berdinding anyaman bambu (dabag) dan beratap jerami, disitulah Zul menghirup nafas pertamanya. Zul anak ke tiga dari lima bersaudara, namun dikarenakan anak pertama sudah meninggal jadilah sekarang hanya empat bersaudara.

Zulkarnaen itulah namanya, mempunya seorang kakak bernama Mono yang berumur tiga tahun pada saat kelahiran Zul. Kemudian setelah melewati beberapa tahun lahirlah adik-adiknya berjumlah dua orang, seorang laki-laki bernama Arto dan seorang perempuan bernama Lestari.

Kedua orang tua Zul hanyalah buruh tani dengan penghasilan yang minim. Mereka bekerja keras menggarap sawah orang lain demi kelangsungan hidup keluarga. Sering sekali Zul dititipkan tetangganya ketika pergi ke sawah, bahkan sering juga ditinggal bekerja dirumah di emong oleh kakaknya yang masih berusia 3 tahun. Zul hanya merasakan ASI selama 10 bulan dikarenakan Mono kakanya tidak rela ketika melihat Ibunya menyusui Zul. Mono mencakar dan memukul Zul pada saat Ibunya menyusui sehingga untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya ASI distop dan diganti air hasil rebusan nasi atau air tajin untuk menggantikan susu. Hal ini menyebabkan pertumbuhan Zul menjadi agak terganggu. Badannya yang semual gemuk dan menggemaskan menjadi kurus dan menyedihkan.

Karena masalah ekonomi, pada umur dua tahun Zul ditinggal bapaknya yang merantau ke daerah Sumatra. Berat sekali Bapaknya meninggalkan anak dan istrinya, namun apa lacur, semua demi keluarga tercinta. Sejak saat itu Ibunya menjadi single parent untuk anak-anaknya. Ditambah kondisi Ibunya saat itu sedang hamil anak ke empat. Sungguh perjuangan berat di emban oleh Ibunya yang harus mengurus kedua anaknya sendirian. Namun Ibu Zul berusaha untuk tabah, dari pada anak-anaknya tidak makan lebih baik merelakan suaminya untuk merantau ke seberang.

"Mak, bapak kemana, kok nggak pulang-pulang" Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh Zul dan Mono kakaknya. Fitrah seorang anak yang merindukan kehadiran seorang ayah
"Bapak cari duit nak, buat makan kita" Jawab Ibunya. Jawaban klasik untuk menghibur anak-anaknya
"Kok nggak pulang-pulang". Tanya anaknya lagi
"Sebentar lagi juga pulang kok, sabar ya?". Jawab Ibunya

Selepas itu biasanya ibunya menyendiri dikamar sambil menangis. Bagaimana tidak, beban ekonomi menyebabkan ia harus terpisah dengan suaminya untuk waktu yang lama, sementara ia sedang hamil anak ke empat.

Tiga tahun merantau ke Sumatra, akhirnya Bapaknya pulang kampung. Saat itu Zul sudah bersekolah kelas TK atau Nol Besar. Saat itu ia sungguh lupa dengan wajah bapaknya, dimana meninggalkannya sewaktu merantau disaat Zul masih berusia 2 tahun. Namun entah mengapa ia merasa bahagia ketika dalam perjalanan pulang banyak orang yang bilang kalau Bapaknya sudah pulang. Zul sangat gembira dengan kedatangan seseorang yang bahkan ia tidak tahu sosoknya.

Benar saja, Zul melihat seorang laki-laki tegap sedang ngobrol dengan beberapa tetangga yang main ke rumahnya.

"Zul ini Bapak, sudah pulang. Sini Bapak gendong". Kata orang itu yang tidak lain adalah ayahnya

 Bersambung....


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment