Jul 22, 2013

Ikhlas Karena Allah, bukan untuk Allah swt

Kadangkala ibadah kita tujukan untuk Allah semata, padahal Allah swt tidak membutuhkan segala bentuk ibadah manusia. Ibadah pada hakikatnya ya untuk kebaikan dan kemanfaatan si manusianya sendiri. Maka ibadahlah karena Allah semata bukan untuk Allah. Artikel dari Pak Agus Mustofa saya upload ulang agar bisa menjadi manfaat lebih luas untuk pembaca.

IKHLAS adalah melakukan seluruh amalan ibadah kita ‘karena Allah’. Bukan ‘untuk Allah’. Jika ikhlas ‘karena Allah’, amalan itu bermakna dilakukan atas dasar ketaatan yang bertumpu pada keimanan dan keyakinan secara substansial. Sedangkan ‘untuk Allah’ bermakna kita mengira Allah membutuhkan sesembahan atau amal ibadah yang kita lakukan itu. Padahal, sesungguhnya Allah Maha Kaya tak membutuhkan apa pun yang ada di alam semesta.

Seluruh amal kebajikan yang kita lakukan dalam koridor ibadah itu sebenarnya adalah untuk kepentingan diri kita sendiri. Persis seperti yang Allah firmankan berikut ini. QS. Al Ankabut (29): 6, ‘’Dan barangsiapa yang berjihad (bersungguh-sungguh beramal kebajikan), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.’’

http://www.adhinbusro.com/2014/02/download-gratis-magis-7.html

Di ayat yang lain, Allah juga menjelaskan dengan redaksi yang berbeda. Bahwa ibadah kita itu sama sekali tidak terkait dengan kebutuhan Allah atas sesembahan hamba-Nya. Melainkan, Dialah yang justru Maha Pemberi dan Penguasa rezeki seluruh ciptaan-Nya.

QS. Adz Dzaariyaat(51): 56-58, ‘’Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki pemberian (rezeki) sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki (diberi) makan. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.’’

Dalam bahasa Arab, kalimat lillaahi memang bisa bermakna ‘untuk Allah’, ‘bagi Allah’, ‘milik Allah’ ataupun ‘karena Allah’. Tetapi, karena dalam bahasa Indonesia kalimat-kalimat itu bisa memiliki rasa bahasa yang berbeda, maka perlu ditegaskan sebagaimana dijelaskan dalam berbagai ayat tersebut. Agar, kita terhindar dari suatu prasangka bahwa Allah membutuhkan ibadah kita. Padahal, yang sebenarnya, kitalah yang membutuhkan ibadah tersebut.

Barangkali tidak terlalu salah ketika kita meniatkan shalat dan puasa kita hanya ‘untuk Allah’, misalnya. Tetapi, menjadi bergeser maknanya ketika kita berpikiran bahwa karenanya Allah membutuhkan shalat dan puasa kita. Yang jika kita tidak shalat, lantas Allah menjadi ‘kesepian’ dan tidak menjadi Tuhan yang disembah oleh manusia. Dan ketika kita tidak berpuasa, lantas Allah seperti kehilangan kekuasaan atas hamba-hamba-Nya.

Tentu bukan demikian cara memahaminya. Karena, Allah berkali-kali menegaskan di dalam Al Qur’an bahwa Allah tak membutuhkan semua itu. Dia adalah Zat yang Qiyamuhu Binafsihi – berdiri sendiri tak butuh apa pun dari luar diri-Nya. Bahkan segala realitas di alam semesta ini adalah milik-Nya belaka. Yang kapan pun bisa dilenyapkan atau dipertahankan sesuai kehendak-Nya.

Seluruh ibadah yang kita lakukan, tak lebih hanyalah untuk kepentingan manusia sendiri. Allah menyayangi kita, dan menyuruh kita beribadah agar kita memperoleh manfaat dari ibadah itu. Menyuruh kita shalat, supaya kita terhindar dari perbuatan keji dan munkar sebagaimana Dia ajarkan – tanha ‘anil fahsyaa’i wal munkar. Menyuruh kita berpuasa, supaya kita menjadi sehat dan bertakwa – shuumu tashihu dan la’allakum tattaquun. Menyuruh kita berdzikir supaya hati kita menjadi tenteram dan damai – alaa bidzikrillaahi tathma’inul qulub. Dan lain sebagainya.

Sehingga kalau pun kita tidak shalat, tidak puasa, tidak berdzikir, dan tidak melakukan ibadah-ibadah lainnya, itu tidak akan mengganggu sedikitpun Keagungan-Nya. Tidak mengurangi Kekuasaan-Nya. Dan tidak menghilangkan Eksistensi-Nya. Allah tetap Allah, Tuhan Sang Pencipta Jagat semesta, yang mengendalikannya, yang mengurusnya, yang berkuasa untuk menghancurkannya, ataupun tetap menjaganya sampai kapan pun Dia kehendaki.

Tetapi, kenapa lantas kita diperintahkan untuk mengikhlaskan segala peribadatan kita itu ‘karena Allah’? Ternyata, semua itu akan memberikan dampak kualitas yang berbeda pada hasilnya. Jika kita puasa karena ingin sehat, maka jiwa kita justru akan terbeban oleh niatan sehat itu. Yang datang bukanlah kesehatan, melainkan justru rasa stress yang memukul kesehatan kita sendiri.

Yang harus dilakukan adalah merelakan dan mengikhlaskannya tanpa beban karena Allah semata. Memang, kita perlu belajar dan mengetahui manfaat puasa yang menyehatkan, tetapi puasa itu bakal memiliki dampak maksimum bagi kesehatan, ketika seseorang meniatkannya dengan tulus ikhlas sebagai ketaatan kepada-Nya.

Meskipun, ketaatan dan keikhlasan itu diperolehnya setelah dia mengetahui bahwa berpuasa ternyata menyehatkan. Dan karenanya, dia menjadi terharu akan kebaikan Allah kepadanya. Dan kemudian dibalasnya dengan ketaatan yang semurni-murninya untuk menyambut kasih sayang Allah itu.

QS. Al Baqarah (2):185, ‘’... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (puasa)nya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.’’

Yang demikian ini bukan hanya untuk ibadah puasa, melainkan untuk seluruh ibadah yang kita lakukan. Shalat kita, dzikir-dzikir kita, zakat dan sedekah, umrah dan haji, dan lain sebagainya. Semua itu, sungguh bukan untuk kepentingan Allah. Tetapi, adalah kasih sayang Allah yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beribadah, serta memurnikan ketaatan hanya kepada Allah Sang Maha Pemurah lagi Maha Bijaksana.

QS. Az Zumar (39): 10-12. ‘’Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini bakal memperoleh kebaikan (pula). Dan bumi Allah itu sangat luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan dicukupkan pahala bagi mereka tanpa batas. Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam beragama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (hanya kepada-Nya).’’

Wallahua’lam bissawab.

Sumber:  https://www.facebook.com/notes/agus-mustofa/tafakur-ramadan-9/10151518973996837



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment