Jul 21, 2013

Bosan Materialisme Beralih ke Spiritualisme

Apakah tujuan hidup anda adalah kesuksesan dalam bentuk kenikmatan duniawi?? Apakah anda mengira setelah meraih itu semua kemudian anda akan merasakan kebahagiaan hakiki? Ternyata menurut Pak Agus Mustofa tidak demikian. Baca dan renungkanlah salah satu artikelnya, Insya Allah bermanfaat.

PERHATIKANLAH sekitar kita, betapa banyak orang yang sudah sukses secara lahiriah dan duniawi, tetapi mengalami kekosongan jiwa. Bahkan tak jarang, kehilangan orientasi hidup. Harta benda sudah melimpah, karier sudah mencapai puncaknya, popularitas juga sudah berada di genggamannya, tetapi hatinya kosong. Karena semua itu hanya bersifat materialistik, yang ketika sudah diperoleh ternyata hanya ‘begitu-begitu’ saja. Membosankan.

Kita membutuhkan sesuatu yang bersifat lebih tinggi dan hakiki dibandingkan semua itu. Sebuah suasana spiritual yang menyejukkan jiwa. Dan terkait dengan ‘Sesuatu’ yang Tak Terbatas serta tak bisa didefinisikan, tetapi bisa kita rasakan keberadaan-Nya. Keberadaan Zat Yang Maha Tinggi itu bisa dirasakan oleh mereka yang melakukan peribadatan dalam arti yang substansial. Bukan hanya yang seremonial ataupun ritual.

Saya punya kawan seorang pengusaha sukses. Perusahaannya banyak, karyawannya ribuan, rumahnya dimana-mana, punya hotel, punya pantai lengkap dengan bisnis hiburannya, mobil berjibun, anak-anaknya lulusan luar negeri, dan sudah dikaruniai cucu yang lucu-lucu. Tetapi, suatu ketika ia menelepon saya dan bercerita bahwa hidupnya gelisah. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang kurang, yang dia sendiri tidak memahami. Bahkan tak jarang, ia merasakan hidupnya hampa.

Saya mencoba memancingnya dengan mengatakan: ‘’bukankah Anda sudah memiliki semuanya?Apalagi yang Anda cari?’’ Dan jawaban dia cukup mengejutkan: ‘’justru karena saya sudah memiliki semua yang saya inginkan itulah saya merasakan kehampaan.Ternyata, semua yang dulu saya bayangkan serba wah dan membahagiakan itu hanya begitu-begitu saja. Saya kehilangan harapan, karena harapan saya sudah tercapai semuanya..!’’

Menurutnya, dia seperti sedang mengejar fatamorgana. Dia mengira ada air di kejauhan, tetapi setelah sampai disitu, air itu tidak ada. Dulu dia mengira kaya raya itu bakal membahagiakan, tetapi ternyata hanya ‘begitu-begitu’ saja. Dulu dia mengira punya kekuasaandan popularitas itu juga akan bahagia, ternyata juga ‘begitu-begitu’ saja. Dulu dia mengira semua yang dia cita-citakan itu adalah sumber segala kebahagiaannya, ternyata lagi-lagi dia tertipu, karena setelah diperolehnya hanya bertahan sementara.

Sehingga dia sampai pada suatu kesimpulan, hanya orang yang belum kaya sajalah yang mengira kekayaan adalah sumber kebahagiaan. Hanya orang-orang yang belum berkuasa sajalah yang mengira kekuasaan adalah sebuah kebahagiaan. Hanya orang-orang yang belum mencapai semua yang diinginkannyalah yang mengira di keinginan itu terdapat kebahagiaan. Karena ternyata, sesampai di tempat tujuan ia tidak menemukan kebahagiaan yang bertahan lama. Hanya sementara. Dan jiwanya pun kembali hampa. Gelisah.

Ini sangat mirip dengan sindiran Al Qur’an yang menyebut kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendau gurau belaka. Tidak substansial. Seperti sesuatu yang mengagumkan, padahal sebenarnya remeh temeh. Seperti sesuatu yang menjanjikan keabadian, tetapi sebenarnya bakal musnah. Semua itu hanya angan-angan belaka. Hanya tipuan yang menyesatkan bagi orang-orang yang tak memahami substansi.

QS. Al An’aam (6): 32. ‘’Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kehidupan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?’’
QS. An Nisaa’ (4): 120,‘’Syaitan memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.’’

Untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, Al Qur’an menyarankan agar kita tidak terjebak kepada dunia yang materialistik. Ada sesuatu yang lebih tinggi dari itu yang harus kita pertimbangkan dan kita dapatkan. Orang-orang yang bertakwa – sebagai hasil akhir puasa – menurut QS. Al Baqarah: 3-4, adalah mereka yang beriman kepada segala yang gaib dan transendental.

Jika kita mau jujur dalam memahami realitas ini, pengetahuan kita tentang alam semesta ini sebenarnya sangatlah sedikit. Tak lebih dari 5 persen saja. Selebihnya yang 95 persen adalah ketidaktahuan. Yang secara saintifik disebut sebagai dark matter dan dark energy. Dan itulah yang oleh Al Qur’an disebut sebagai kegaiban. Itu pula sebabnya, Al Qur’an mengajari agar kita tidak terlalu sombong dan terlalu percaya diri, bahwa semua bisa dijelaskan secara materialistik. Karena sesungguhnya kita terlalu lemah dan bodoh untuk memahami realitas sejati.

Allah mengingatkan, bahwa kehidupan duniawi ini tidak akan berakhir disini. Melainkan akan berlanjut dengan fase-fase yang masih belum kita mengerti. Maka, kita disarankan menggali pengetahuan tersebut dari Yang Maha Mengerti. Bahwa kehidupan duniawi ini sebenarnya adalah sesuatu yang menjebak dan melalaikan.Oleh karenanya, orientasi hidup kita harus segera disesuaikan untuk menyongsong datangnya fase-fase yang tidak kita mengerti alias gaib itu.

QS. Al Kahfi (18): 46. ‘’Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang abadi lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu. Serta lebih baik untuk menjadi harapan.’’

Kuncinya adalah pada amal kebajikan. Bukan pada harta benda duniawi atau hal-hal materialistik yang bersifat menjebak. Amal kebajikan adalah rekaman keabadian atas segala kebaikan yang kita taburkan. Sedangkan harta benda duniawi adalah kehancuran yang niscaya terjadi seiring berjalannya waktu kehidupan. Hanya orang-orang yang bersandar dan berserah diri kepada-Nya sajalah yang bakal menerima petunjuk ini, dan kemudian melepaskan diri dari kegelisahan dan kehampaan hidupnya. Dan lantas, mencapai kebahagiaan yang sejati.

QS. Az Zukhruf (43): 68, ‘’Hai hamba-hamba-Ku, tidak ada lagi kegelisahan bagimu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu)orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri (kepada Ilahi Rabbi).’’

Semoga puasa kita sampai hari ini adalah puasa yang mendorong kualitas diri menjadi semakin bertakwa.Tidak terjebak pada hal-hal yang fisikal dan materialistik. Melainkan, berdampak membangkitkan ketakwaan yang membawa kita kepada perjalanan spiritual untuk berserah diri hanya kepada-Nya. Wallahu a’lam bissawab.

Sumber:  https://www.facebook.com/notes/agus-mustofa/tafakur-ramadan-10/10151520656486837



Artikel Terkait



2 comments:

  1. terima kasih pak adhin..saya sampai menetesksn air mata..saya merasakan apa yg dirasakan pengusaha itu..mengejar fatamorgana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa menjadi pelajaran dan hikmah ya?

      Delete