Oct 26, 2012

Oh Bapakku, Oh Ibuku

Ibuku yang melahirkanku dengan taruhan nyawa kini telah menua. Kerut diwajahnya tidak bisa menyembunyikan keletihan dan penderitaan karena mengurusi anaknya. Bapaku... Kini tubuhmu mulai renta, senyummu kini merekah bebas. Sempurnalah engkau yang sudah berhasil membesarkan dan mendidik setiap anak-anakmu. Mereka kini tinggal berdua tinggal di gubug tepi desa. Bercengkerama mesra menunggu panggilan Yang Kuasa.

Jauh di sana anakmu meneruskan tongkat keturunan. Cucumu kini semakin lucu. Namun wahai Bapak dan Ibuku, ananda mohon maaf yang sebesar-besanya karena setiap kebahagiaan jarang sekali kami bagikan kepadamu. Hanya anak dan istriku. Dan akupun tidak tahu mengapa sampai tega anakmu begitu..

Padahal Ibu, engkau bertaruh nyawa ketika melahirkanku. Membesarkanku dengan segenap kasih sayangmu. Tidak peduli segala sesuatu yang penting anakmu sehat dan bahagia. Padahal Bapak, engkau habiskan keringatmu demi anak-anakmu. Tidak sedikitpun engkau mencoba peduli kepada dirimu sendiri kecuali bagaimana supaya anak-anakmu sukses dan maju.

Waktu itu wajah Bapak berseri-seri, pulang nguli membawa 2 kotak nasi bungkus lauknya telur dadar. Engkau berkata kepada Ibu, "Bu ini ada nasi spesial buat ibu dan  ke 5 anak-anak kita. Makanlah, tadi bapak sudah makan di proyek". Kemudian Ibu Menjawab, "Buat anak-anak kita saja Pak, kebetulan Ibu sudah makan di tempat nenek". Berbahagialah kami anak-anakmu memakan makanan lezat yang jarang-jarang ada. Maafkan aku Pak, Bu karena anakmu tidak tahu ternyata Bapak belum makan dari pagi. Dan Ibu juga.

Ibu, engkau pernah bilang "Anakku bolehlah engkau pulang sebentar ke desa, Ibu kangen kamu dan cucuku"
Dan anakmu bilang "Ibu, maafkan aku. Pekerjaanku membuat aku terlalu sibuk"
Ibu menjawab "Baiklah anakku, semoga engkau bahagia"
Ibu, anakmu tidak tahu selesai engkau tutup telpon, air matamu mulai mengalir jatuh. Engkau mengenang masa kecil anakmu. Saat itu, engkau menangis bahagia menyambut kelahiranku, mendekapku dan terus mendekapku dengan ucapan penuh sukur. Engkau mengingat bahkan begitu detail perkembangan pertumbuhanku sampai besar. Maafkan aku Ibu, anakmu tidak tahu bahwa engkau seringkali berkata di dalam kegelapan malam, "Padahal Ibu hanya ingin mendekapmu sebentar nak???, Ibu kangen dan rindu. Ibu ingin memelukmu barang sebentar saja sebelum Tuhan memanggilku"

"Bapak tidak minta apa-apa kok nak, uang bapak masih cukup" Itulah kata-kata yang sering diutarakan kepadaku. Maafkan anakmu Pak, anakmu tidak tahu bahwa hari ini engkau hanya makan satu kali dengan nasi jagung. Anakmu tidak tahu kalau Bapak mengidap hipertensi. Anakmu tidak tahu kalau bapak sering melihat gambar usang dibalik kasur. Gambar mekah dan ka'bah... Matamu menerawang jauh, pikiranmu bahkan sudah sampai di mekah.

Bapak, Ibu maafkan anakmu... Bapaaaaakkkk, Ibuuuuuu???
Tuhan... Kembalikan mereka. Hidupkan kembali mereka...
Hamba belum membahagiakan mereka berdua, hamba janji akan bekerja lebih giat dalam menjemput rezeki_Mu.. Hamba janji akan selalu menengok mereka dengan memberikan khabar bahagia. Hamba ingin melihat mereka bahagia Tuhan...

Tetapi mustahil, tetapi tidak bisa. Hanya penyesalan yang terus saja menyesak dalam dada. Hanya batu nisan Bapak dan Ibuku menjadi saksi perjuangan dan pengorbanan orang tua untuk anak-anaknya benar-benar tiada terhingga.


Artikel Terkait



1 comment:

  1. nggak bisa koment nmas, inget ibuku

    ReplyDelete