TEMPLATE ERROR: Invalid data reference label.name: No dictionary named: 'label' in: ['blog', 'skin', 'view'] Keajaiban Mendahulukan Kepentingan Allah swt | Adhin Busro (dot) Com

Oct 19, 2012

Keajaiban Mendahulukan Kepentingan Allah swt

Inilah cara mendapatkan keajaiban demi keajaiban yang sebenarnya. Anda harus mencobanya supaya ngeh dan setuju, bahwa Allah swt akan menolong siapapun hamba_Nya yang mendahulukan kepentingan_Nya. Sekali lagi cobalah dan ceritakan kepada kami keajaiban anda. Berikut sebagian kecil yang pernah saya rasakan..
  • Saya mau bertemu rekan bisnis potensial. Jam 12 pas rekan bisnis dijadwalkan keluar kantor karena ada urusan. Pas saya mau bertemu pas adzan berkumandang. Ragu antara bertemu atau shalat. Kami pilih shalat. Jam 12;30 selesai shalat saya coba ikhtiar terakhir untuk bertemu. Ternyata rekan bisnis saya masih ada dikantor dan akhirnya tanpa diduga kami membicarakan deal bisnis dengan value yang besar
  • Beberapa tahun lalu saya ada hutang di sebuah lembaga. Hari demi hari selalu kepikiran antara membayar atau tidak usah membayar. Karena tidak membayarpun lembaga tersebut tidak akan menagihnya. Maklum hutangnya sudah luamaaa banget. Tahunan... Namun karena alasan takut sama Allah dimana hutang wajib dibayar akhirnya saya datangi lembaga tersebut. Hampir 1 jam saya mencoba meyakinkan CSO bahwa saya pernah berhutang namun setelah dicek berulang kali nama saya sebagai penghutang tidak ada di daftar... Jadinya uang saya yang cukup besar untuk membayar hutang masih utuh
  • Sampai sekarang di dalam bekerja kami tidak terlalu ngoyo, saatnya kerja ya kerja, saatnya dhuha ya dhuha, saatnya shalat ya shalat. Nyatanya rezeki ada saja cara datangnya.  
Dahulukan kepentingan agama (Walaupun sebenarnya Allah tidak membutuhkan apapun dari mahluk_Nya) maka Insya Allah keajaiban akan anda rasakan baik rezeki, kekayaan, kesehatan, relasi dan lain sebagainya. Cobalah tips saya berikut ini. Cobalah jangan banyak tanya dahulu
  • Saatnya dhuha ya dhuha. Gak peduli pekerjaan numpuk yang penting dhuha rutin
  • Saatnya shalat wajib ya shalatlah, walaupun saat itu banyak kesibukan tinggalkanlah
  • Jika ada uang disaku walaupun sedikit, kebetulan ada peminta-minta kasihlah. Semuanya gak usah berpikir lama. Pokoknya semuanya kasih.
  • Anda berhutang dan sudah punya uang untuk membayar walaupun impas maka bayarlah. Jangan berpikir dulu untuk makan siang anak istri
  • Anda mampu dan berhak untuk marah, tahanlah karena Allah
  • Orang tua atau saudara meminta sebagian gaji kita maka berilah. Tidak usah berpikir bahwa saat itu sudah tanggal tua.
  • Minggu depan hari raya kurban maka berkurbanlah. Jangan dipikirkan dulu jika setelah berkurban uang anda akan berkurang cukup banyak.
  • Dan apapun itu yang penting dahulukan kebaikan, dahulukan Allah swt niscaya Allah swt akan menolong anda. Mendahulukan pertolongan kepada anda. Pasti.... Dan balasan_Nya nggak pake lama. Saya buktinya. Dan diluar sana juga buanyak yang sudah merasakannya.. Wallahu A'lam
 ”Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah:214). ”Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang–orang yang beriman.” (QS. Ar Ruum:47).

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40).


Berikut uraian Pak Agus Mustofa dalam note FB nya tentang keajaiban mendahulukan kepentingan Allah swt.

MESTINYA, ibadah haji adalah rukun Islam kelima. Yaitu, setelah syahadat, shalat, puasa, zakat, kemudian berhaji ke tanah suci. Tetapi, ternyata ada yang menjalankan ibadah haji ini sebagai rukun Islam yang kedua. Yakni, setelah membaca syahadat, langsung menjalankan ibadah haji, karena ia punya duit dan punya kesempatan. Apalagi, ternyata dengan berhaji itu status sosialnya menjadi meningkat di mata masyarakat. Meskipun, ia tidak pernah shalat, berpuasa, ataupun berzakat

Sebaliknya, ada pula orang yang menjadikan ibadah hajinya sebagai rukun Islam yang ketujuh. Setelah bersyahadat, shalat, puasa dan zakat, maka yang kelima adalah beli rumah, yang keenam punya mobil, yang ketujuh baru berhaji ke tanah suci.

Lantas, apakah tidak boleh menjadikan haji sebagai rukun kedua atau ketujuh? Tentu saja tidak ada yang melarang. Tetapi sungguh terkandung pelajaran yang sangat mendalam pada keduanya, terkait dengan kualitas ‘pengorbanan’ sebagai salah satu pelajaran inti ibadah haji.

Saya sendiri awalnya, tanpa terasa, menjadikan haji sebagai rukun Islam ketujuh itu. Sebagaimana kebanyakan umat Islam, saya sudah lama memendam keinginan untuk beribadah ke tanah suci. Tetapi, berbagai macam kesibukan dan alasan menyebabkan saya tidak segera berani untuk pergi haji. Diantaranya, saya ingin memiliki rumah dan mobil terlebih dahulu.

Sebelum usia 30-an tahun saya sudah bisa mencapai keinginan itu. Tetapi, ternyata dengan berbagai alasan saya belum juga memutuskan untuk pergi haji. Sampai di tahun 1998, dimana Indonesia diterpa badai krisis ekonomi yang dahsyat, yang memorak porandakan pemerintahan maupun sendi-sendi bisnis di semua lini. Bisnis sampingan saya pun ikut runtuh. Modal yang tak seberapa hanyut seperti kecemplung air bah. Dan rumah maupun mobil ikut terseret arus.

Dalam kondisi kelimpungan itu saya teringat niatan saya untuk pergi ke tanah suci yang sudah lama terpendam. Saya seperti disadarkan oleh Allah, bahwa pencapaian yang sudah saya peroleh itu tidak boleh menghalangi proses spiritualitas untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, saya pun membulatkan tekat untuk pergi ke tanah suci, justru dalam kondisi yang pas-pasan waktu itu. Rumah yang tadinya milik sendiri, saat itu beralih ke rumah kontrakan. Mobil yang tadinya bagus dan punya beberapa, tinggal satu dengan kualitas seadanya.

Tetapi, justru saat itulah keinginan saya untuk pergi ke tanah suci mendadak menggebu. Padahal, waktu pendaftaran haji sudah habis. Untungnya, siang harinya saya memperoleh kabar batas pendaftaran haji diundur dua minggu, karena kuota masih tersedia banyak. Rupanya, krisis ekonomi yang hebat itu telah menyebabkan begitu banyak calon jamaah haji yang mengurungkan diri. Saya pun bergegas mendaftar bersama istri.

Saya masih teringat pertanyaan istri saat membuat keputusan itu. ‘’Apakah uang tabungan yang tinggal sedikit ini mau kita gunakan untuk pergi haji?’’ Ia khawatir sisanya tidak cukup untuk membeli rumah lagi, apalagi mobil. Tetapi, niatan saya begitu kuat. Saya katakan kepadanya, bahwa rezeki itu urusan Allah. ‘’Kita sudah berusaha untuk meraihnya, tetapi Allah berkehendak lain. Barangkali Dia mengingatkan kita agar tidak menomer duakan proses spiritual untuk mendekatkan diri kepada-Nya...’’Akhirnya, jadilah kami mendaftarkan diri untuk pergi haji di tahun 2000.

Kemudahan demi kemudahan lantas terjadi. Berbagai urusan administrasi yang tadinya belum kami siapkan sama sekali, tiba-tiba menjadi mudah semuanya. Mulai dari KTP yang mati sampai urusan paspor, cek kesehatan, dan berbagai persiapan lain, semuanya mudah. Dan yang paling membuat kami surprised saat itu adalah ini: ada orang menjual rumah dengan harga sangat murah..! Orang itu terbelit hutang di bank, sehingga rumahnya dilelang. Dan ia menawarkan kepada saya. Yang luar biasa, harganya sama persis dengan sisa uang tabungan saya setelah dipakai mendaftar haji..! Subhanallaah.

Saya masih merinding jika ingat peristiwa itu. Keputusan saya untuk mendekatkan diri kepada Allah langsung dijawab. Padahal belum berangkat ke tanah suci. Kekhawatiran istri saya – tidak akan punya rumah – juga langsung direspon oleh-Nya. Bahkan, ’kontan’ beberapa hari sebelum berangkat haji. Tentu saja saya langsung menangkap kesempatan itu, bertransaksi rumah dengan sisa uang tabungan yang ada. Alhamdulillah..

Anda bisa membayangkan betapa mantapnya kami saat berangkat haji. Rasa syukur tiada henti-hentinya kami lantunkan sepanjang perjalanan haji kami. Bukan hanya karena memperoleh rumah kembali dengan harga yang bisa kami jangkau, tetapi karena kami merasa telah mengambil keputusan yang tepat untuk mendahulukan Allah. Sehingga, Allah lantas memberikan solusi atas permasalahan yang sedang menghimpit kami.

Itulah ibadah ke tanah suci yang paling mengharu biru jiwa kami. Sebuah perjalanan yang penuh linangan air mata. Antara rasa berdosa dan pertaubatan. Antara kegelisahan dan keyakinan. Antara penyesalan dan rasa syukur yang tiada tara. Ternyata, ibadah haji seharusnya memang tidak kami tempatkan di urutan ketujuh, melainkan benar-benar menjadi rukun Islam yang kelima..!

QS. Faathir (35): 34
Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (membalas rasa syukur dengan kebahagiaan yang tiada tara).

Wallahu a’lam bishshawab.

Berani coba?? Buat yang berani, bagikan keajaiban anda kepada kami setelah anda melakukannya.. Saya tunggu keajaiban anda di form komentar. Setelah itu saya kasih tips lebih hebat bagaimana cara menarik rezeki


Dapatkan 10 modul 1000 halaman bagaimana cara menarik rezeki, klik disini

 

Artikel Terkait



4 comments:

  1. Okeh, saya coba Pak...

    ReplyDelete
  2. Betul sekali, saya juga membuktikannya. Saat itu disaku cuma ada 5000. Tiba-tiba dijalan ada pengemis, saya kasih aja semua. Gak sampai semenit waktu balik ke kerjaan saya nemu uang dijalan pas 5000 juga. Tambahan lagi pas makan siang ada yang traktir. Fadil

    ReplyDelete
  3. Amin amin amin. Mantap mantap mantap...

    ReplyDelete
  4. Sededah кέ saya aja,,saya ƪαбì pusing buat bayar hutang,uang tak punya istri mau melahirkan,,kalau ada saudara2 yg mau bantu si iklas nya الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ semoga Ðί balas allah.trasper кέ bca saya 0671624245 atas nama hendrik

    ReplyDelete

Ngeri.. Menyadarkan..!