TEMPLATE ERROR: Invalid data reference label.name: No dictionary named: 'label' in: ['blog', 'skin', 'view'] Ilmu Hikmah, "Berkurban" | Adhin Busro (dot) Com

Ngeri.. Menyadarkan..!

26 Okt 2012

Ilmu Hikmah, "Berkurban"

Baranikah anda menyembelih anak sendiri sebagai bukti cinta kepada Allah?? Saya yakin kita tidak berani. Makanya untuk menyambung sejarah betapa besar Tauhid Ibrahim AS dalam pengorbanannya, kita di perintahkan untuk berkurban dengan menyembelih hewan ternak, bukan menyembelih anak kita sendiri. Itu salah satu bukti bahwa Allah sangat menyayangi kita mahluk_Nya. Bagaimana??Apakah kita mau berkurban kambing/sapi?? Ternyata itupun masih berat. Sudah cukuplah bukti bahwa kecintaan kita kepada Allah begitu tipisnya.

Ketika turun perintah dalam mimpinya bahwa Ibrahim harus menyembelih anaknya Ismail AS bimbanglah ia. Bagaimana mungkin mengorbankan anak kesayangannya yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya bertahun-tahun? Ini adalah sebuah situasi yang sangat sangat sulit....
"Ibrahim mempunyai dua alternatif, mengikuti jeritan hatinya dan "menyelamatkan" Ismail, atau mengikuti perintah Tuhan dan "mengorbankan" Ismail. Ia harus memilih salah satu!. "Cinta" dan "kebenaran", sedang berkecamuk dalam hatinya (cinta yang merupakan kehidupannya dan kebenaran yang merupakan keyakinannya)." Sejarah tauhid tersebut diceritakan dalam Al Qur'an

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya) (nyatalah kesabaran keduanya)." (ayat 103)
"Dan kami ganti anak itu dengan seekor sembelihan yang besar". (ayat 107)

Maka ta heran orang yang enggan berkurban seringnya malah kehilangan anaknya. Kehilangan anak karena kebodohannya atau karena keberhasilannya. Bagaimana bisa?
"Pak, pokoknya kalau tidak beli motor dedek tidak mau sekolah"
"Le, bapak kan duitnya cekak"
"Ya sudah dedek tidak mau sekolah lagi"
Akhirnya dengan ngutang sana sini belilah si bapak motor untuk anaknya. Apakah dia sekolah? Tidak, motornya malah dipakai buat pergi ke warnet. Ketika ditanya Bapaknya
"Le, khan bapak sudah belikan motor kok kamu tetep gak sekolah"
"La le la le, aku udah besar Pak, Bapak ini lo ndeso"
Akhirnya si Bapak tidak pernah menegur si anak lagi. Dia sudah kehilangan anaknya. Ada tetapi tiada.

Bagaimana kehilangan anaknya berkat keberhasilannya?
Kata orang tuanya "Saya sudah pontang panting membesarkan dia, kaki buat kepala, kepala buat kaki, sehingga bisa sekolah sampai perguruan tinggi dan sekarang sudah sukses di kota. Jangankan pulang telpon atau SMS saja enggak".
"Le Ibu kangen"
"Ibu khan sudah telpon saya, udah ngobrol"
"Tapi le, Ibu Pengin liat kamu"
"Tinggal aktifkan aja triji (3G) nya to Bu?, Repot amat"
"Ya tapi beda to le, Ibu pengin main ke tempatmu"
"Kapan-kapan aja lah Bu, saya lagi repot"

Akhirnya si Ibu hanya bisa menghela nafas. Dia kehilangan anaknya. Ada tapi tiada.

Itulah kurang lebih point-point dari khutbah jumat Drs. H. Achmad Sobirin yang baru saja saya dengarkan. Kalau kita menghayati sejarah kurban sungguh sangat malu malu sekali. Pengorbanan Ibrahim AS begitu luar biasanya sebagai manifestasi kecintaan kepada Rabb. Bandingkan dengan kita, disuruh berkorban kambing saja enggan dengan segudang alasan. Untuk itu saya mengajak diri saya sendir dan pembaca semuanya untuk instrspeksi, Cukuplah kita nilai diri sendiri berapa besar kecintaan kita kepada Sang Pencipta

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar