TEMPLATE ERROR: Invalid data reference label.name: No dictionary named: 'label' in: ['blog', 'skin', 'view'] Beginilah seharusnya berzikir dan berdoa | Adhin Busro (dot) Com

Ngeri.. Menyadarkan..!

20 Okt 2012

Beginilah seharusnya berzikir dan berdoa

Saya seringkali mengatakan bahwa ketika kita berdoa atau berzikir ternyata banyak diantara kita yang tidak mengetahui urgensi dan arti dari pada doa dan zikir tersebut. Yang penting hapal sementara apa yang dia baca dan kepada siapa doa dan zikir dipanjatkan kurang begitu diperhatikan. Padahal itulah yang terpenting. Kita seharusnya tahu kepada siapa kita memohon dan meminta, tahu apa yang kita minta. Percuma zikir dan doa sekian ratus kali atau bahkan ribuan kali sementara hati lalai.

Agus mustofa dalam uraian tentang Tasawuf Haji mengatakan begini

Ya, dzikir adalah upaya untuk menyambungkan hati dengan Allah. Apa pun bacaannya. Dzikrullah bermakna ‘mengingat’ Allah. Hatinya berinteraksi dengan Dzat Penguasa Jagat Raya, yang telah memproklamirkan diri-Nya sebegitu dekat dengan makhluk-Nya. Yang ‘jaraknya’ sudah lebih dekat daripada urat leher kita sendiri – yang kita tahu sudah tak berjarak itu. Karena urat leher memang sudah berada di dalam diri kita sendiri.

Meskipun sudah sedemikian dekatnya kita dengan Allah, tak jarang kita tidak merasakan kedekatan itu. Kenapa? Karena kita tidak mengingat-Nya. Tidak berdzikir kepada-Nya. Perhatian kita terdominasi oleh hal-hal yang bersifat semu dan inderawi. Al Qur’an menyebut kondisi itu sebagai ‘lalai’, tidak fokus, dan ‘kemana-mana’. Dzikir yang baik adalah yang bisa menyatukan keberagaman realitas di sekitar kita menjadi ‘kesadaran tunggal’ melebur ke dalam kesadaran terhadap Allah. Bukan cuma menyadari ‘bersama’ Allah. Melainkan berada di dalam-Nya. Yang oleh Al Qur’an dijelaskan sebagai: Allah telah meliputi segala sesuatu – benda maupun peristiwa, termasuk kita – wakanallahu bikulli syai’in mukhiitha.

Maka, doa orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji menjadi sangat mustajab, dikarenakan hati yang selalu nyambung kepada-Nya itu. Namun toh demikian, banyak jamaah haji yang tak bisa mencapai kondisi tersebut. Banyak orang berdoa di tanah suci tanpa menyambungkan hati kepada-Nya. Kecuali sekedar memenuhi syariatnya saja. Inilah yang oleh Allah disebut sebagai doa yang lalai itu.

QS. Al Ahqaf (46): 5
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)-nya sampai hari kiamat, dan orang-orang yang LALAI terhadap doanya?

Orang yang lalai terhadap doanya itu ditempatkan dalam satu kalimat dengan orang-orang yang menyembah selain Allah. Artinya, jiwanya sama-sama tidak fokus kepada Allah yang mestinya menjadi satu-satunya Tuhan yang hadir di dalam kesadarannya dalam berdoa. Lantas, apakah yang bisa melalaikan kita dalam berdoa kepada Allah itu?

Sementara, di sisi yang lain saya melihat sejumlah jamaah berdoa sambil berurai air mata. Tenggelam dalam dzikir-dzikir yang panjang. Berbisik-bisik dengan Allah, Dzat yang sudah mendominasi seluruh kesadarannya. Dan kemudian mereka tersungkur dalam nikmatnya sujud yang panjang, sampai terguncang-guncang punggungnya oleh isak tangis yang membuncah dalam rasa syukur dan pertaubatannya yang dalam...

QS. Al Israa’ (17): 109-110
Dan mereka tersungkur bersujud sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu' (dalam ibadahnya). Katakanlah (kepadanya): "Bisikkanlah (nama) Allah atau Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu sebut, Dia mempunyai Asmaaul Husna. Dan janganlah kamu keraskan suaramu dalam sembahyangmu dan janganlah pula merendahkannya. Dan lakukanlah pertengahan di antara keduanya (dengan berbisik-bisik sepenuh jiwa)."

Sudahkah kita mengerti doa kita?? Sudahkah kita tahu kepada siapa doa kita panjatkan??? sudahkah ada getaran dalam hati ketika berdoa?? Kalau sudah artinya anda sudah benar dalam berzikir dan berdoa. Kalau belum latihlah mulai dari sekarang. Doa kami untuk anda pembaca semuanya


Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar