TEMPLATE ERROR: Invalid data reference label.name: No dictionary named: 'label' in: ['blog', 'skin', 'view'] Seputar definisi Tawakal yang sesungguhnya | Adhin Busro (dot) Com

Berbisnis Bersama Adhin Busro

Aug 3, 2012

Seputar definisi Tawakal yang sesungguhnya

"Pak Adhin, tawakal itu bagaimana ya?" Dari Hamba Allah di Karawang

Saya banyak menyarankan untuk yang mengalami masalah perekonomian yang mampet untuk berdoa, ikhtiar kemudian tawakal. Ada member dan pembaca yang menanyakan kepada saya "Tawakal" itu sebenarnya sikap yang bagaimana? Nah atas pertanyaan tersebut, saya menulis artikel singkat tentang definisi tawakal.


Menurut wikipedia Tawakal berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Itu artinya tawakal adalah sikap hati setelah sudah melakukan ikhtiar maksimal. Sikap hati yang memasrahkan semua hasil hanya kepada Allah swt. Ketika anda menginginkan kelancaran rezeki dengan berpangku tangan kemudian berkata "Saya tawakal", itu bukanlah tawakal yang sesungguhnya.

Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

Menurut Abu Zakaria Ansari, tawakkal ialah "keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain". Sifat yang demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang diserahi urusan tadi. Artinya, ia betul-betul mempunyai sifat amanah (tepercaya) terhadap apa yang diamanatkan dan ia dapat memberikan rasa aman terhadap orang yang memberikan amanat tersebut.

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Makanya ketika kita sudah berniat baik untuk merubah hidup kemudian bekerja keras, namun dalam beberapa waktu hasilnya belum sesuai keinginan, bahkan usaha yang kita rintis misalnya mengalami kebangkrutan, kita akan selalu berbaik sangka kepada_Nya. Inilah tawakal yang sesungguhnya. Dia yakin bahwa hanya masalah proses untuk tercapainya impian mereka. Mereka sadar Allah Maha Tahu apa-apa yang terbaik buat hamba-hamba_Nya.

Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan tawakkal. Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. Orang semacam ini mempunyai pemikiran, tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki pandai tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Allah menghendaki menjadi orang kaya tentulah kaya, dan seterusnya. Bagi saya itu hanyalah angan-angan kosong belaka.

Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar perutnya, seklipun ada berbagai makanan, tetapi ia berpikir bahwa jika Allah menghendaki ia kenyang, tentulah kenyang. Jika pendapat ini dpegang teguh pasti akan menyengsarakan diri sendiri.

Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya -- menurut ajaran Islam -- ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.

Misalnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, "Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah". Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, "Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal."

Demikian semoga anda paham. Kesimpulannya dalam hal mencari rezeki, berdoalah kepada_Nya agar supaya diberikan rezeki yang halal dan berkah serta banyak, kemudian bekerja maksimal dilanjutkan tawakal. Insya Allah jalan rezeki akan dibuka dengan cara yang ajaib.

Sebuah kisah nyata
Hari ini Jumat 3 Agustus 2012, Zul memutuskan untuk menemui klien yang sudah merasa kecewa dengan pelayanan Zul. Klien prospektif tersebut memutuskan untuk tidak bekerjasama lagi dengan bisnis yang sudah Zul rintis. Zul berusaha untuk memperbaiki kerjasama yang hampir terputus dengan bertawakal kepada Allah apapun hasilnya nanti.

"Pak, saya meminta maaf atas kelalaian ini, saya janji tidak akan melakukannya lagi, ini adalah pengalaman dan hikmah buat saya" Kata Zul
"Zul, saya kecewa dengan anda dan saya sudah tidak mau bekerja sama dengan anda lagi" Kata klien
"Baik lah Pak, kalau itu memang yang terbaik. Paling tidak itu pelajaran buat saya, supaya bisa lebih menghargai perjanjian bisnis. Saya tidak menginginkan hal ini, namun jika konsekwensinya seperti itu, saya menerima dengan besar hati"
"Saya heran mengapa kamu melakukannya Zul, padahal saya percaya sama kamu"
"Pak, sebenarnya ini bukan keinginan saya, saya hanya manusia yang banyak kekurangan. Hal itu terjadi tanpa sepengetahuan saya. Namun saya tidak mau beralasan, ini salah saya dan saya bertanggung jawab" Kata Zul mencoba tawakal apapun resikonya
............................................................................................
Beberapa jam kemudian klien telpon Zul. Sebuah keajaiban datang pada Zul sebagai akibat dari sikap jujur dan tawakal nya.
"Zul saya hargai kejujuranmu, saya percaya kamu dan dari awal memang percaya sama kamu, saya yakin kekeliruan ini tidak disengaja, Zul saya ada proyek besar dan pilihan saya untuk bekerja sama jatuh sama kamu, tolong dikerjakan dengan baik dan jujur"
"Subhanallah, Alhamdulillah"

Sebelum blog ini anda tutup renungkanlah (Baca, pahami dan hayati kemudian lakukan) Firman Allah berikut ini



Kami tutup pembahasan kali ini dengan menyampaikan salah satu faedah tawakal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3). Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”


"Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. (QS At Talaq 3)
 Kami tutup pembahasan kali ini dengan menyampaikan salah satu faedah tawakal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3). Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”

Juga Hadist berikut ini

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment

Ngeri.. Menyadarkan..!