May 31, 2012

Uang Bukan Segalanya, Tetapi Segalanya Butuh Uang

 Ada tulisan di blog sebelah yang cukup menggelitik, begini ceritanya



"Pada suatu titik jenuh, akhirnya aku mengambil kesimpulan yang pahit ini : uang memang dapat mengatur kebahagiaan kita. Tak satupun dari kita memungkiri bahwa uang adalah hal pertama yang kita butuhkan untuk dapat bertahan hidup (maksudku bila kita hidup tidak sendirian di tengah hutan atau lautan). Tiga kebutuhan pokok manusia yaitu sandang, pangan, papan, dapat kita penuhi dengan uang, apalagi kebutuhan sekunder dan tersier. Hidup selalu menghendaki transaksi dan transaksi selalu menggunakan uang, begitulah aturannya sepertinya. Waktu, tenaga, dan pikiran aku masukkan juga ke dalam istilah uang, karena benda tak kasat mata yang kita miliki tersebut memang dapat dihargai dengan uang.


Uang dapat membawa kita pada tingkat kenyamanan tertentu dalam hidup ini, seperti misalnya mobil mewah, rumah megah ber-AC, jalan-jalan keluar kota atau bahkan keluar negeri, dan masih banyak lagi. Dengan uang pula kita dapat membelikan ibu, saudara, istri/suami barang kesukaan mereka, sehingga mereka menjadi senang (syukur-syukur bila bisa sampai pada level bahagia). Kita juga bisa berbagi keceriaan bersama anak-anak panti asuhan dengan memberi mereka makanan atau mainan yang jarang mereka dapati. Apa kita pikir kita bisa membuat anak-anak yatim piatu bisa tertawa tanpa kita membawa uang untuk mereka? Apa kita pikir waktu yang kita luangkan untuk orang miskin bukan berarti uang juga? Bukankah semboyan ‘waktu adalah uang’ masih terlalu berharga untuk kita abaikan?"

Begitulah tulisan yang cukup menggelitik kita semua
Pertanyaanya adalah setujukah bahwa uang adalah segalanya??

Akan banyak versi jawaban, tergantung siapa yang menjawabnya dan apa latar belakang kehidupannya. Namun sepertinya hati kecil kita tetap setuju bahwa uang bukanlah segalanya, namun kemudian di tambahkan kata-kata yang kita sepakat (sepertimya begitu) bahwa segalanya butuh uang.

Saya mengajak untuk membayangkan bahwa anda mempunyai milyaran uang yang ada di beberapa rekening anda dan saya. Untuk apa uang itu digunakan? Bayangkan kita menggunakan uang untuk hal-hal yang positif. Akan terasa berbeda perasaanya jika kita memikirkan penggunaan uang tersebut untuk hal positif dari pada hal negatif

1. Saya akan membahagiakan anak dan istri
2. Saya akan memberangkatkan orang tua ke tanah Suci bersama saya dan keluarga
3. Saya akan membantu melunasi hutang saudara dan tetangga
4. Saya akan bersedekah jauh lebih banyak
5. Saya akan membantu pembangunan masjid dan yayasan yatim piatu?
6. Saya selalu memberikan lembaran limapuluh ribuan ke setiap peminta-minta yang saya temui
7. Saya akan membantu perjuangan agama
8. Saya akan membantu fakir miskin dan anak yatim semaksimal mungkin
9. Dan saya berbahagia melakukan itu semua untuk Keridhaan Tuhan YME

Bagaimana??
Bukankah itu tujuan mulia?. Bukankah itu doa yang baik? Bukankah Allah mendengar dan mengabulkan doa Hamba_Nya?

Buang jauh-jauh cara supaya rezeki itu datang kepada kita. Cukup kita meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Insya Allah cara yang terbaik dan halal akan di datangkan kepada kita dan kita tinggal menjalankannya dengan senang hati proses-proses tersebut.

Alam raga membutuhkan ruang dan waktu untuk merealisasikan doa kita. Semua butuh proses, bukan sim salabim abra kadabra. Awali dengan bersyukur dan lalui proses dengan sabar dan percepat keinginan anda dengan amalan pembuka rezeki.

Saatnya doa kita terkabul maka keinginan kita betul-betul akan mewujud dalam alam fisik. Kemudian lakukan janji anda seperti diatas. Maka itulah yang namanya kebahagiaan. Bahagia bisa amanah, bahagia Doa di Kabulkan, bahagia bisa berbagi, bahagia bisa bermanfaat buat sesama. Dan kebahagiaan sejati adalah ketika kita mampu mengemban amanat yang di berikan Allah SWT kepada kita untuk menjadi khalifah di muka bumi dengan ikhlas Lillaahi Ta'ala.

Amin




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment