May 31, 2012

Sudahkah Kita Bersyukur?

True story dengan sedikit editing
Oleh Adhin Busro


Siang itu sekitar bulan Januari 2010 saya sedang menuju arah masjid untuk melaksanakan sholat jumat di daerah Pondok Cabe Ciputat. Tepatnya di masjid dekat dengan Universitas Terbuka tidak jauh dari bandara Pondok Cabe. Saya adalah Pekerja lapangan atau marketing sebuah perusahaan Alkes. Posisi saat itu sedang pendekatan ke klien untuk tender Alat Kesehatan. Berhubung sudah pukul 11.30 saya memutuskan untuk Jumatan terlebih dahulu.

Saat itu kondisi saya capek luar biasa, bagaimana tidak. Perjalanan naik motor lebih dari 2 jam setengah namun belum sampai tujuan. Nggrundel bahasa jawanya, Memendam perasaan tidak pernah cukup. Tetapi kalau tidak begini bagaimana anak istri bisa makan? Dengan kerja seperti ini saja sering ngutang buat beli susu si bocah. Huh, tidak adil, batin saya

Sebelum ke masjid saya mampir dulu ke warung untuk membasahi kerongkongan yang kering akibat kepanasan.
"Bang es teh ya?"

"Ya Tuhan, capek banget. Kerja capek gaji pas-pasan. Waduuh kapan bisa kaya"
"Apa sampai tua begini terus?"
"Tuhan, mengapa hidup saya begini"

Kemudian
"Tong, kasihani saya, belum makan"
Ada Bapak-bapak pengemis tua, lusuh dan kuyu
Sesosok renta dan ternyata Buta. Dia berjalan dengan tongkatnya di temani istrinya yang ternyata juga kesulitan melihat. Terlihat dari sudut matanya yang cekung mengamati saya dengan susah payah.

"Oh, sini kek minum dulu"
Saya kasihan dan menawari minum
Glek,glek,glek
2 orang tua renta melahap habis minuman yang saya berikan. Nampaknya mereka sangat kehausan.
"Alhamdulillah akhirnya bisa minum es teh yang manis"
"Dari pagi hanya minum air kran masjid" Katanya
"Terimakasih banyak Tong" Semoga Allah memberi gantinya berlipat ganda"

Deg!!!!!! Jantungku berdetak
Mereka yang sangat kekurangan saja masih bisa bersyukur atas apa yang sudah mereka alami.
Kebutaan dan kemiskinan
Si kakek dan si nenek mengajari saya bagaimana bersyukur

Dengan sedikit terbata saya dan tersenyum kecut saya bertanya
"Mau lagi esnya kek, nek?"

"Alhamdulillah, Kalau boleh di bungkus tong, kite ude cukup" Jawabnya
"Buat apa?"
"Buat cucu saya".
"Lah, cucunya sama siapa?, orang tuanya?".

"Yatim piatu tong. Bapak Ibunya sudah tiada".
"Lah, yang ngurus mereka siapa?"
"Siapa lagi tong, ya saya kakek dan neneknya?"

Deg!!! Lagi-lagi jantungku serasa berdetak lebih kencang. Baru beberapa menit yang lalu saya menggerutu atas ketidak adilan Tuhan menurut saya, sekarang Mereka mengajari saya bagaimana bersyukur.
Bukankah saya masih mempunyai orang tua yang lengkap.
Istri yang shalihah dan anak yang lucu??

Tak terasa mata saya berkaca-kaca. Mulut saya tercekat. Ampuni kami ya Allah

"Kek, Nek ini es dan jajanan buat cucu kakek, dan ini sedikit buat uang jajannya"
Kata saya sambil terbata-bata. Air mata saya mulai mengalir

"Makasih banyak Tong?"
Dan doa-doa meluncur dari mulut keriput mereka. Sepintas saya melihat bagaimana kebahagiaan yang tiada terperi menghinggapi rona wajah mereka, membayangkan bagaimana bahagianya sang cucu menerima es teh dan jajanan. Saya tidak kuat dan sambil pamit saya melangkah cepat ke masjid.

Khotib selesai berkhutbah, namun saya tidak pernah konsentrasi lagi mendengarkan khutbah. Yang saya ingat adalah pengalaman dengan kakek dan nenek tadi benar-benar menguras emosi saya.

Bismillahirahmanirahiim
Alhamdulillaahirabbil Aalamiin
..........................................

Imam mulai memimpin sholat jumat.
Mendung
Yah, mendung, tiba-tiba langit gelap
Angin sepoi-sepoi seperti  menyapa saya
Dada saya seperti bergemuruh, menahan sesuatu yang sangat berat
Mata saya mulai berat dan berkaca-kaca
Tangan dan kaki saya bergetar

Kemudian surah Ar Rahman

di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.
(QS. 55:11)

Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
(QS. 55:12)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(QS. 55:13)
 ............................................................................................
.............................................................................................

Jlegeeer Halilintar menyambar
Byuuurrrr
Akhirnya air mata tak kuasa lagi terbendung..
Begitu kami sering mendustakan Nikmat Engkau yang tiada Kami bisa Menghitungnya 
Ampuni kami ya Rabb. Ampuni
...............................................................................................................
...............................................................................................................
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?(QS. 55:77)
Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.(QS. 55:77)

Bergetarlah seluruh persendian
Takut, cemas
Air Mata tumpah diiringi isak tangis yang di tahan

................................................................................
Assalamualaikum Wrahmatullaah

Sholat jumat di akhiri salam


Terimakasih kek
Terimakasih Nek

Anda telah mengajari saya, bagaimana seharusnya saya bersyukur


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment