Mar 11, 2012

Sebuah Kisah, bahaya ghibah / menjelekkan teman sendiri

Budi (bukan nama sebenarnya) adalah seorang manager. Sudah 3 thn lebih saya bekerja sama dengan dia. Satu hal yang benar-benar membuat saya heran, tidak henti-hentinya dia menggibah teman sendiri. Menjelek-jelekkan kawan dan sesama tim. Seorang manager yang seharusnya menjadi contoh, namun sebaliknya membawa racun. Saya yakin dia tahu akan bahaya Ghibah namun nyatanya kebiasaannya terus saja dia lakukan. Disamping juga suka mencari muka kepada atasannya.

Jika bersama saya, budi menjelek-jelekkan si A. Jika ngobrol dengan si A dia menjelek-jelekkan saya, B dan C dan begitu setiap hari. Kalau ada masalah dengan si A, dia begitu piawai mencari dukungan dengan yang lainnya, semua tim didekatinya dan bahkan dibelakangnya Budi suka menguliti AIB si A sampai habis. Apa tidak capek, batin saya
Itu, si bosmu dia itu lemah" Kata budi suatu kali kepada saya
"Masak Pak Budi?"
"Ia lah, dia itu tidak ada tegasnya sama sekali", sebenarnya tidak pantas dia jadi bosmu, yang pantas itu kamu". Kata Budi
"Emang iya sih pak, tapi dia orangnya baik kok"

Hampir saya masuk ke perangkap Budi, dia memang pintar mencari dukungan

"Baik gimana?, dia itu orangnya gak bisa kerja?".

Itu kurang lebih sekelumit pembicaraan Budi dengan saya, yag menjelek-jelekkan bos saya sendiri.

Pernah suatu waktu Budi berselisih dengan saya, dan apa yang terjadi?, Saya tahu dari teman yang lain, bahwa Budi benar-benar mencari dukungan untuk memusuhi saya, dan memang itulah yag terjadi. Kawan-kawa yang lain mulai menjauhi saya. Budi memfitnah saya habis-habisan, menguliti saya. Sakit hati saya waktu itu. Bahkan sempat berpikir untuk resign. Namun kalau resign berarti dia yang menang. Saya mencoba untuk terus bersabar. Allah Maha Tahu...

Tak terasa hampir 3 tahun saya bekerja di perusahaan ini, dimana bos saya dan Budi telah berganti dengan yag lain. Bos ini tidak mempan ABS (Asal bos senang), tidak suka ada yang mencari muka. Yang penting adalah performance.

"Budi, kamu ndak usah banyak omong, kamu jangan menjilat saya ya?" Kata Bos baru
"Tidak Bu, saya memang kenal dia, dia kawan saya, dia klien yang potensial".
"Semua kamu bilang kawan, tapi mana hasilnya?. 3 tahun hasilnya nol"
"Tapi khan perlu proses Bu"
"sudahlah, maaf saya nggak bisa kalau kayak gini"

Itu sepenggal pembicaraan Budi dengan Bos. Akhir-akhir ini si Bos sering sekali memarahi Budi karena sukanya hanya omong doang. Waktu berlalu Budi masih saja tidak perform, sampai pada saatnya yaitu HRD memanggilnya. Budi di berikan SP 3 namun tidak dipecat dan dikasih waktu 6 bulan untuk membuktikan omong besarnya.

Mungkin Budi stress akan kerjaanya yang amburadul. Jika dipecat mau makan apa anak dan istrinya? Sampai akhirnya Budi terkena penyakit lemah jantung dan dirawat di Rumah Sakit selama 2 minggu. Selepas dari Rumah Sakit Budi harus rutin mengkonsumsi obat dalam jangka waktu lama. Jika telat jantungnya bisa kumat.

Saat ini Budi menjalani hidup tanpa kepastian. Di pekerjaannya dia di pressure luar biasa di beri waktu 6 bulan dan kini tinggal 3 bulan namun tetap tidak ada peningkatan performa, juga kesehatanya cukup lemah karena jantungnya. Di keluarganyapun demikian anaknya beberapa kali harus bolak balik Rumah Sakit karena sering terkena penyakit berat. Kenapa Wallaahu A'lam.

Budi yang harus mengumpulkan uangnya untuk membahagiakan keluargannya, justru uang yang dia kumpulkan habis bahkan kurang untuk menutupi biaya hidupnya. Dan kini rezekinya semakin seret saja, dikarenakan sudah tidak ada bonus yag keluar untuknya.

Saya berdoa semoga Budi sadar akan kebiasaan buruknya, sehingga keadaannya bisa menjadi lebih baik, tidak seperti sekarang.

Pembaca...
Percayalah, tidak ada manfaatnya Ghibah, bahkan mudharatnya sangat besar. Mulutmu harimaumu. Lihatlah kisah nyata Budi, semoga menjadi pelajaran.

Ghibah atau menggunjing ibarat memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati, apakah anda tidak jijik?

Allah SWT berfirman

“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka adalah dosa; janganlah mencari-cari keburukan orang, dan jangan menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujur√Ęt [49]: 12)

Rosulullah bersabda

Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah SAW. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. “ Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

Bahaya Ghibah

Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril” Siapa merka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” (dari Abu Daud yang berasal dari Anas bin Malik ra).

Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

Saudaraku,
Jauhi Ghibah karena itu perbuatan keji.Ghibah itu bahayanya dunia akherat. Lihat kisah Budi. Pikirkanlah bahayanya sebelum anda bicara. Berpikir sebelum mengatakan sesuatu tentang orang lain. Belum tentu orang yang anda bicarakan itu lebih buruk dari pada anda. Dari pada berbicara yang tidak berguna lebih baik diam atau pergi.

Ingat anda adalah apa yang anda bicarakan. Jika kata-kata ada busuk berarti anda adalah busuk. Jika kata-kata anda santun dan baik berarti anda adalah baik.

Mengapa saya memberikan masukan kepada anda untuk tidak melakukan Ghibah? Karena saya ingin anda menjadi orang yang baik. Karena kami mencintai ada karena Allah SwT.

Bagaimana?



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment