Mar 15, 2012

Mario Teguh Golden Ways "Ikan Yang Hilang"

Anda kenal Mario Teguh, pastinya kenal. Ya, dialah motivator ulung yang sangat berbakat memberi motivasi kepada audience.

Berikut adalah uraian motivasi karya Mario Teguh yang di siarkan di sebuah stsiun TV berjudul “Ikan Yang Tenggelam“.Ikan yang tenggelam itu adalah ikan yang berhenti berenang. Ikan yang sudah mulai malas untuk berenang lama-lama dia akan berhenti hidupnya, karena dia menolak sebagaimana yang sudah difitrahkan.

Kita disebut hidup kalau berupaya, bukan hanya bernafas; karena kalau hanya bernafas hanya fisik kita saja yang hidup. Tetapi jika kita berupaya, jiwa kita juga hidup.

Sehingga orang yang tidak lagi disebut hidup adalah orang yang berhenti berupaya, yang walaupun badannya hidup, tetapi mewadahi jiwa yang mati.

Banyak orang yang meyakini hal-hal yang benar dengan cara-cara yang salah; ini sangat melukai sekali, sehingga akhirnya dia menolak berupaya; karena dia tidak melihat haknya untuk berbahagia.

Setiap orang yang bisa berdiri gagah hari ini, adalah orang yang telah berkali-kali diselamatkan. Kalau terakhir kali kita begitu ketakutan dan akhirnya selamat, kenapa kita takut tenggelam nanti, kalau kita tahu akan diselamatkan lagi.

Jadi libatkan diri dalam kehidupan, kalu mau gagal – gagal-lah, karena kita
akan diselamatkan lagi.

Ikan-ikan ini tidak pernah menyerah kepada keadaan, sama halnya seperti kita yang tidak pernah menyerah kepada kesulitan.

Jadi janganlah melihat sulitnya, tetapi lihatlah gembiranya. Maka jika kita sudah berada dititik nadir; bergembiralah, karena sudah berada dititik dasar yang tidak bisa turun lagi, kecuali balik naik dan berbahagia lagi.

Semua masalah itu jangan dianggap masalah, karena masalah ini akan menjadi masalah selama anda anggap masalah.

Orang-orang kaya itu awalnya sering mengalami kegagalan, lalu menukarkan kegagalannya dalam bentuk pengalaman yang bisa dijual. Orang-orang yang hidupnya lemah, ia gagal kemudian menggunakan biaya dari kegagalannya untuk membebani perjalanan masa depannya.

Kita tenggelam dalam kesedihan atau kesulitan, karena kita lupa dengan yang kita miliki, karena sedang sibuk menginginkan yang belum kita miliki. Orang yang menaruh kebahagiannya dihati, ia tidak akan tidak berbahagia kalau tidak punya itu semua.

Itu sebabnya ada orang yang mengatakan bisa kaya tanpa harta; kalau isteri-nya baik, anak-nya baik, nafkah yang dimakan keluarganya dari sumber yang halal; inilah kekayaan yang mulia.

Maka bagaimana kalau kita berhenti menginginkan yang belum kita miliki, dengan cara melupakan yang sudah kita miliki.

Mari kita balik sekarang, dengan mensyukuri yang sudah kita miliki, sebagai cara untuk mencapai yang belum kita miliki.

Jadilah orang yang iri melihat kelebihan orang yang baik. Caranya, bersainglah dengan diri anda, karena anda tahu anda masih malas, anda tahu kalau anda masih suka menunda, anda tahu kalau anda masih meragukan
yang anda lakukan, anda tahu bahwa anda masih takut tentang masa depan.

Iri-lah dengan orang2 yang ikhlas, karena orang2 yang iklhals itu tahu jika berhasil, dia diberhasilkan. Orang2 ikhlas itu tahu bahwa tugas dia hanya berusaha, yang mengijinkan berhasil atau gagal adalah Tuhan, karena Tuhan tahu yang terbaik untuk dia.

Banyak orang memilih “hidup mengalir seperti air“, “rejeki sudah ada yang mengatur” dan “hidup ini sementara“; ini-lah yang dimaksud meyakini hal-hal yang benar dengan cara2 yang salah.

Hidup mengalir seperti air. Hidup ini mengalir, memang benar adanya; tetapi dengan hanya meyakini hidup ini mengalir, dihanya menerima dorongan turun; karena air ini mengalirnya kebawah. Kita harus mempunyai “high rise pump” yang mendorong air mengalir ke lantai 156; yaitu kesungguhan untuk menolak yang tidak baik, dan kseungguhan untuk menguatkan pilihan2 baik. Maka mengalirlah seperti air, tetapi pastikan anda
mempunyai tenaga untuk naik.

Rejeki sudah ada yang mengatur. Sikap ini banyak digunakan oleh orang2 yang malas. Rejeki memang diatur oleh Tuhan, tidak pada jumlahnya, tetapi pada caranya. Jadi jangan khawatirkan mengenai jumlahnya, bersemangatlah untuk memilih pilihan2 supaya ukuran rejekinya besar.

Hidup ini sementara. Itu memang benar adanya, tetapi yang sementara itu hanyalah hidupnya badan, tetapi jiwa kita abadi, tidak akan pernah mati. Umur badan kita bisa 50, 60, 70 tahun; tapi setelah itu kita harus melanjutkan kehidupan berikutnya dengan tumaninah.

Jika anak anda jatuh, jangan pernah salahkan benda yang membuat anak anda jatuh; karena jika anak anda besar nanti, ia akan menyalahkan lingkungan sebagai penyebab dari kegagalalan-nya.

Untuk itu hindarkan anak dari melihat selain dirinya yang bertanggung jawab bagi penderitaannya. Kalau anak datang mengeluh, jangan dilayani keluhannya, karena itu membuat dia semakin terlibat dengan perasaan sedihnya.

Jangan pernah menghibur orang untuk mendapatkan kenikmatan dari penderitaannya.

Untuk orang yang berbicara, lalu mau didengarkan, ia harus mempunyai nilai dengar. Bicara itu bukan banyak-banyakan bicara, bukan baik-baik-an cara menyampaikannya, tetapi nilai dari yang dikatakan.

-Anak muda biasanya bicaranya kurang bernilai; maka sering-seringlah membaca nasihat2 pendek dari orang2 yang sudah jadi. Orang2 yang pembicaranya mempunyai nilai, bicaranya tidak kompleks, tetapi yang
dikatakannya berdampak besar.

-Anak muda biasanya bicaranya tergesa-gesa bicara, padahal bicara pada waktu yang tepat lebih penting daripada banyak bicara.

Diam pada waktu harus diam, itu lebih tepat. Jadi anak muda yang berhenti bicara, selama semua pembicaranya masih benar, itu menghemat tenaga.

Hanya orang kecil, yang sakit disakiti orang kecil. Berarti orang yang sakit hati karena disakiti temannya, karena masih satu level; setelah dia naik level dia tidak akan lagi sakit.

Maka gunakanlah perasaan-perasaan buruk yang membuat marah itu, untuk tumbuh; sehingga perasaan marah itu menjadi baik.

Cek kedewasaan kita dari sudut pandang kegunaan. Selama kita mencari kegunaan untuk diri sendiri, kita belum betul2 matang; setelah kita menemukan cara untuk berguna bagi orang, berarti kita sudah dewasa.

Ikan yang tenggelam adalah ikan yang sudah menyerah dan menolak berenang. manusia yang tenggelam adalah manusia yang menolak berupaya, karena formula upaya adalah do’a + tindakan.

Dalam program ini diingatkan untuk selalu mengupayakan yang lebih, bukan hanya menikmati keadaan yang bisa kita nikmati sekarang.

Cara untuk membangun kesungguhan dalam memajukan kebaikan dalam berupaya ini, terkadang tidak kita kenali lagi; karena banyak orang waktu mau memulai usaha bersemangat sekali, tidak bisa tidur dengan ide; tetapi
begitu berusaha, beku dan tidak tahu apa2.

Jadi kalau kita dibantu oleh kehidupan dengan penderitaan, dengan rasa takut, dengan kekhawatiran, dengan keterdesakan, syukuri itu semua bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai perintah untuk memperbaiki diri, untuk kuat.

Ikan yang sehat selalu berenang menentang arus, ikan yang sakit berenang ikut arus.

Jadi meyakini hidup mengalir tadi dan mengikuti yang turun, itu ikan sakit. Kalau semua orang tidak jujur, ia tidak akan meyakini ketidak-jujuran. Kalau ada orang bilang “Yang haram saja susah, apalagi yang halal”, ini-lah ikan sakit. Karena ikan sehat akan berkata “Orang tidak jujur saja bisa kaya, apalagi yang jujur”, “Orang tidak baik saja bisa tinggi pangkatnya, apalagi yang baik”.

Jadi kalau begitu, jadilah ikan yang selalu bergerak, jadilah manusia yang selalu berupaya, dan mengambil apapun yang terjadi sebagai perintah untuk membaikkan diri.

Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment