Mar 3, 2012

Ikhlas Dalam Sedekah, wajibkah?

Dari penuturan Ust Yusuf M

Bolehkah Bersedekah Dengan Berharap Sesuatu Di Balik Sedekah Tersebut? Cerita Motivasi dan Spirit Dari Allah dan Rasul-Nya

Lalu kemudian, yang menjadi pertanyaan, apakah boleh sedekah dengan mengharapkan “sesuatu” di balik sedekah yang kita lakukan?

Hal ini menjadi penting, sebab inti dari “menyelesaikan hutang segunung” adalah dengan jalan memperbanyak sedekah. Jangan sampai nanti kita diklaim, “Wah, saudara bersedekah ada maunya (yaitu mau dibebaskan hutang)”. Semoga Allah berkenan menunjukkan kita ke jalan yang benar, dan menyelamatkan kita dari kesalahpahaman akan ajarannya, serta melindungi kita dari keyakinan yang salah. Amin. Allah jualah Penentu Kebenaran Yang Hakiki.

Saudara, menurut pengetahuan kami (mohon koreksian bila ditemukan kesalahan) tidak mengapa saudara bersedekah sambil mengharap adanya bantuan Allah di masalah hutang saudara (atau di masalah-masalah yang lain). Karena ini adalah permintaan saudara kepada Tuhan saudara, Allah rabbul „alamin. Iman yang bagaimana lagi ukurannya dibanding kita percaya akan janji-Nya dan memohon kepada-Nya melalui pintu sedekah? Semakin besar tingkat kepercayaan kita kepada Allah, tentu akan semakin besar pula sedekah kita, pengorbanan kita.

Mengakadkan keutamaan sedekah dengan berharap masalah hutang selesai juga tidak terkait dengan ikhlas atau tidak ikhlas. Saudara boleh tidak sepaham dengan hal ini; bahwa masalah bisa dibeli dengan sedekah dan bahwa keinginan juga bisa dibeli dengan sedekah. Tapi insya Allah tulisan ini juga tidak bermaksud berkonfrontasi kepada mereka yang tidak setuju. Hal ini
dipaparkan, tidak lain tidak bukan agar tumbuh spirit, tumbuh semangat untuk giat beramal dan bersedekah.

Saudara, sedekah dikatakan tidak ikhlas adalah kalau kita ngomongin sedekah kita, mengungkitnya di sesama manusia (al Baqarah: 264). Tapi kalau kita berharap “imbal jasa” dari Allah, menurut keterbatasan kami, ini namanya “doa”, atau “permintaan”. Pikirkanlah, apalah lagi yang lebih utama, daripada mengharap hanya kepada Allah? Dan memasukinya lewat pintu yang diperintahkan oleh-Nya, yang salah satunya adalah pintu sedekah?

Syahdan, ada orang tua yang bilang kepada anaknya, “Nak… Jika kamu berhasil masuk ranking sepuluh besar, kamu akan ayah belikan sepeda.” Lalu terjadilah dorongan yang begitu besar di dalam diri si anak tersebut sehingga ia memacu dirinya untuk bisa menembus sepuluh besar. Tatkala anaknya bisa mencapainya, si anak “menagih janji”. Dan dapatlah janji tersebut, karena memang sudah dijanjikan.

Dan Subhanallah, Allah menawarkan dan menjanjikan surga bagi siapa yang mengerjakan perintah-Nya, dan mengancam dengan neraka bagi siapa yang menjauhi-Nya. Maka, salahkah bila kita juga mengharap surga dan berharap jauh dari neraka-Nya dengan beribadah kepada-Nya? Allah memberikan surga dan neraka sebagai motivasi dan ancaman. Bahkan dalam Ilmu Hadits, kita juga mengenal adanya hadits targhib wattarhib, hadis motivasi dan ancaman.

Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment